Sabtu, 01 Oktober 2011

Mutiara Di Pinggir Kali

Oleh M .jono AG

Senyum yang selalu mengembang ditambah pelukan hangat terasa menjalar di seluruh tubuhku setelah beliau menjawab salamku. Aku merasakan seperti pelukan seorang ayah terhadap anaknya , walaupun usia ayahku mungkin 10 atau 15 tahun lebih tua dari beliau .Aku sengaja ‘’sowan’’ ke beliau setelah usai jamaah Magrib , karena biasanya jam – jam segitu belaiu mempunyai waktu yang sedikit longgar.

Alasan kedua kenapa aku memilih ba’da Magrib adalah kebiasaan beliau menerima tamu setelah jamaah pasti di lakukan di musholla yang terletak persis hanya sekitar 10 meter dari bibir bengawan Solo yang secara geografis membelah Jawa Tengah dan Jawa Timur persis di Cepu.Jembatan yang membentang menjadi garis demarkasi perbatasan kedua wilayah propinsi tersebut sehingga disana sering jadi anekdot kalau bepergian antar kota antar propinsi cukup jalan kaki dijembatan tersebut.

Musholla itu tidak terlalu besar , sekitar 4x6 m dan terdapat pintu yang langsung nyambung dengan rumah beliau yang persis di belakangnya sehingga kalau selepas ustadz Syai’in memimpin sholat berjamaah bisa langsung menemui tamu yang hendak bertemu beliau .

Obrolan kami diawali dengan menanyakan kabar masing – masing karena hanya waktu cutilah kami bisa bertemu .Obrolan ringan itu semakin menarik ketika aku menanyakan bagaimana perkembangan jamaah selama ramadhan yang baru berlalu kemarin.Aku melihat wajah beliau kelihatan sumringah . Akupun menikmati suasana ini , berarti Allah telah menurunkan sesuatu pada beliau yang memang sedari dulu berdakwah untuk mengembangkan syiar Islam di sekitar tempat tinggalnya.

Setelah mempersilahkan kami minum , beliau bercerita kalau ramadhan kali ini Allah ‘’ menitipkan ‘’ beberapa jamaah baru yang sebelumnya maaf mereka adalah pemuda yang hoby mabuk-mabukan . Allah telah membuka hati mereka lewat keluhuran akhlaq ustad z Syai’in walaupun belaiu sendiri tidak senang di panggil ustadz .Beliau lebih senang dipanggil pak Syai’in saja katanya agar lebih akrab.

Aku berusaha mengorek lebih dalam kiat beliau menarik mereka menjadi jamaah di musholla kecilnya . Karena dulu memang terdapat kondisi yang sangat kontras antar dua kampung di sekitar tempat tinggal beliau.Satu kampung dengan tingkat religius yang tinggi sedang satu kampung yang satunya justru banyak yang jauh dari agama dan banyak pemudanya yang hoby mabuk-mabukan.

Naluri dakwah beliau yang selalu bergelora , menggelitik hatinya untuk merangkul mereka. Beliau mulai melihat dimana para pemuda itu ngumpul , jam berapa ngumpulnya dan berapa orang anggotanya.Setelah beliau tahu persis jadwal mereka mulailah strategi itu dimainkan.Kebiasaan beliau yang selalu santun terhadap siapapun menjadi modal yang sangat berguna baginya.

Kebetulan beberapa hari awal Ramadhan ustadz Syai’in beberapa kali diundang tetangga dan jamaahnya yang tasyakuran . Beberapa kali juga oleh – oleh dari tuan rumah tidak dibawanya pulang melainkan diantar ke tempat mereka walaupun sore itu belum waktunya buka puasa. Justru menjadi alasan yang tepat untuk mengingatkan mereka yang justru mabuk-mabukan di gardu ronda pada saat yang lain berpuasa .Seolah tidak tahu latar belakang mereka pak Syai’in dengan santainya mengantarkan makanan itu ke mereka : ‘’ Ini mas untuk buka puasa nanti sore .’’

Yang menerima dengan gugup bercampur kaget berusaha berdiri tegak walaupun ternyata masih kelihatan sempoyongan karena yang datang kali ini adalah tokoh yang dihormati warga di sekitar kampung itu. Tidak juga memarahi mereka tapi justru memberi makanan oleh-oleh tasyakuran beberapa bungkus , cukup untuk mereka berlima.Mungkin karena masih sedikit punya kesadaran , beberapa botol minuman keras itu berusaha disembunyikan dibawah bangku . Pak Syai’in hanya tersenyum lihat tingkah mereka.

Suatu saat ketika pak Syai’in hendak berangkat mengajar dan lewat di gardu ronda itu tanpa sengaja melihat salah seorang dari mereka sedang memotong rambut temannya.Seperti biasa disamping membunyikan klakson motor tua yang beliau kendarai , pak Syai’in mengucapkan salam kepada mereka . Lama kelamaan mereka menjadi terbiasa dan tidak asing lagi dengan pak Syai’in.

Kesempatan terbuka luas , selang beberapa hari kemudian kebetulan rambut beliau mulai panjang maka tidak di sia-siakan kesempatan yang Allah bukakan untuknya. Dengan PD beliau datangi mereka untuk minta potong rambut.Awalnya mereka kikuk menerima tawaran itu , tetapi setelah beliau menjelaskan bahwa tukang cukur langganan beliau sedang keluar kota akhirnya mereka mau . Tapi aneh mereka takut kalau harus memegang kepala beliau . Mereka beralasan nggak pantas memegang kepala tokoh yang dihormati masyarakat di sekitar situ , takut kualat katanya.

Dengan santai pak Syai’in menjelaskan bahwa derajat mereka sama saja di depan Allah , tidak ada beda antara yang dipanggil ustadz maupun mereka yang memungut sampah dijalanan. Semua punya porsi masing – masing di kehidupan ini. ‘’Ya beda pak antara kami dengan bapak , kami kerjaannya nongkrong , minum dan tanpa tujuan hidup yang jelas sedangkan bapak sangat dekat dengan agama .’’ kata mereka. Pak Syai’in tersenyum dalam hati , berarti sebenarnya mereka juga tahu mana yang baik dan mana yang buruk .

‘’ Lha ayo mas , coba-coba datang ke musholla , wong musholla itu dulu juga bikinan orang tua kalian ‘’ imbuh pak Syaiin dengan penuh kebapakan . ‘’ Malu pak , mana ada yang mau terima kita macam begini ?’’ jawab mereka kompak. ‘’ Lho malu sama siapa mas ?’’ pak Syai’in kembali bertanya. ‘’Malu pada orang –orang pak , sudah terlanjur ‘’ jawab salah satu dari mereka . Pak Syai’in berdiri setelah salah seorang yang mencukur tadi mengisyaratkan kepada beliau bahwa telah selesai potong rambutnya .

Pak Syaiin tidak langsung pulang . Beliau berdiri dan memegang pundak salah satu dari mereka.’’Mas ,itulah kita manusia , kita sering malu untuk berbuat baik tapi tidak malu kalau maksiat kepada Allah , termasuk diri saya ‘’jelasnya. Seketika mereka berempat tertunduk , tidak bisa ngomong apa – apa lagi.Hati kecil mereka mengakui apa yang disampaikan beliau benar , cuman butuh keberanian untuk berubah.

Satu dua kali belum berhasil membawa mereka untuk ke musholla tidak membuat pak Syai’in menyerah. Dia yakin tentang kisah kesabaran Rasulullah SAW yang setiap hari menyuapkan makanan kepada seorang Yahudi buta yang sangat membenci nabi. Hingga suatu saat ketika baginda nabi wafat peran itu diteruskan oleh sahabat Abu bakar RA .Namun si Yahudi walaupun buta tapi tahu kalau saat ini yang menyuapinya bukan orang sebelumnya. Ketika dia tahu yang biasa menyuapinya adalah Muhammad yang sangat dia benci selama ini keadaan berubah 180 derajat .Hidayah Allah menuntunnya ke jalan Islam.

Demikian juga pak Syai’in , menjelang 10 hari terakhir Ramadhan rupanya Allah memberi jalan dan kemudahan. Pada saat pulang terlalu malam karena kendaraannya bermasalah , justru tawaran datang dari salah seorang mereka yang kebetulan membawa motor .Pak Syai’in sebenarnya agak ragu karena dari mulutnya masih bau alkohol. Tapi keyakinan yang kuat kepada Allah mengalahkan semuanya. Tawaran itu dimanfaatkan untuk mengantar langkah kaki mereka ke musholla . Sampai di musholla pak Syai’in menyuguhkan satu gelas air mineral kepadanya .

Dialog singkat terjadi .Setelah pak Syai’in menyampaikan rasa terima kasihnya sekali lagi beliau mengajak mereka untuk sama-sama sholat tarawih besuk malamnya .Dan 10 hari terakhir dimusholla yang asri di pinggir sungai bengawan solo itu bertambah jumlah makmumnya.Merekalah penyambut hidayah itu….. Subhanallah walhamdulillah.

Selasa, 27 September 2011

Hatiku di Persimpangan


Diluar hujan turun kian deras. Sesekali suara petir menyeruak memecah keheningan malam, suara nyanyian jangkrik tak lagi indah ku dengar, seakan suara itu bagaikan nyanyiaan kematian.

Jam sudah menunjukkan pukul  02.00 dini hari, akan tetapi , mataku masih belum bisa terpejam.

Air mata  seakan tiada henti membasahi pipiku, dadaku kian sesak, ingin rasanya teriak, kenapa harus seperti ini.

 “Adinda, ma’afkan kakak, kakak memang sangat mencintaimu, kakak sangat menyayangimu, akan tetapi, engkau telah dipinang oleh saudara seimanku, haram hukumnya  untuk merebutmu dari tangannya” suara datar itu menggetarkan hatiku dari ujung telepon.


“ Omong kosong..! kakak bohong..!, kalau memang kakak sayang sama Dinda, kenapa kakak nggak berani minta aku ke ayah, minta ke ayah untuk membatalkan pernikahan itu dan bilang ke ayah kalau kakak yang akan menikahiku” kataku serak menahan rasa jengkel 

 “Istigfar Dinda..! ingat, waktu kamu hanya tinggal 1 bulan lagi, kakak nggak mungkin meminangmu, dosa Dinda….! Coba kamu renungkan hadist Rosulullah Saw yang dulu pernah kakak kasih lihat kekamu, kamu tentu masih ingatkan..?”selanya lagi, agar fikiranku kembali jernih

Dengan tubuh yang lunglai aku berusaha mengingat  sabda  Rasulullah  sallallahu  ‘alaihi  wa sallam: “Janganlah seorang laki-laki meminang wanita yang  telah  dipinang  saudaranya  hingga  dia  menikah atau  telah  meninggalkannya”  (HR.  Bukhari  dan Nasa’i).  


Kata-kata kak Ronie di telepon tadi pagi masih terngiang ditelingaku. Aku menyesal dulu telah meninggalkannya, dan lebih memilih Randy.
Meskipun Randy  jauh lebih mapan dibanding kak Ronie yang sampai sa’at ini masih luntang lantung, akan tetapi hatiku kian terpaut padanya, aku merasakan kasih sayang yang diberikan kak Ronie sangat berbeda.
Ah…! Ada apa denganku Ya Allah….kenapa semakin dekat hari pernikahan kami, hatiku kian goyah, aku ingi sekali rasanya untuk pergi meninggalkan Randy, aku seakan menyesal menerima pinangannya. Apa yang harus aku lakukan.

Aku dan kak Ronie telah berteman sejak lama, meski usia kami terpaut sangat jauh, justru itu yang membuatku nyaman dekat dengannya. Setiap kali ada  masalah yang aku sulit pecahkan sendiri, kak Ronie selalu datang bagai malaikat penolong, aku semakin sering curhat padanya, tak terkecuali tentang permasalahanku dengan Randy.

Sampai suatu sa’at Randy meninggalkanku, dan itu tanpa alasan yang jelas, aku merasakan semuanya hancur sa’at itu, aku kehilangan gairah hidupku, dan kak Ronie lah yang selalu setia menghiburku, meski kadang gurauannya tak mampu mengusir pedihku, namun, dia tak pernah bosan membuatku untuk ceria lagi seperti dulu, dia tak pernah bosan mengingatkanku untuk tidak meningglkan kewajibanku terhadap Tuhanku, dia seperti tak kehilangan akal untuk membangkitkan kembali semangat hidupku yang seakan-akan telah mati.
Perlahan hatiku mulai bergantung padanya, aku akan merasa ada yang kurang jika sehari saja dia tak memberi kabar, meski itu hanya sebatas sms. Kian hari kami kian dekat, dan aku tak tau perasaan apa itu, apakah aku mulai menyayangi dia…? Entahlah, yang aku tau aku merasa nyaman , dan sosok Randy mulai samar dihatiku. 

Hingga suatu hari kak Ronie menyatakan isi hatinya kalau dia ternyata sudah lama menyimpan rasa untukku. Aku senang bercampur ragu. Aku tak tau harus memberi jawaban apa padanya, karena aku masih belum tau perasaan yang ku miliki, cintakah atau hanya sekedar rasa kagum, hingga beberapa kali dia meminta jawaban dariku, aku masih terus mengulurnya, tetapi aku juga tak mau dia pergi begitu saja, aku juga tak rela jika akhirnya dia memilih wanita lain. Ah....egoisnya aku.

Setahun berlalu, ternyata kak Ronie masih menunggu jawaban dariku. Tapi tetap saja, jawabanku masih samar, karena jujur, dalam lubuk hatiku paling dalam, aku masih menunggu Randy, aku masih mengharapkan kehadiran Randy.

Dan ternyata Allah menjawah do’a-do’aku. Sebulan kemudian entah angin apa yang membawa Randy datang menemuiku lagi, aku bahagia sekali, aku seakan lupa rasa sakit yang pernah ditorehkan Randy dihatiku. Dan hey…Randy ternyata datang untuk memintaku lagi, dia mengatakan kalau dia menyesal meninggalkanku, dan dia ingin menikah denganku, dan tentu saja aku bahagia, itu impianku sedari dulu.


Tapi……………


Bagaimana dengan kak Ronie..?  bagaimana dengan malaikatku..?


Ternyata kak Ronie sudah mengetahui semuanya, dia tau kalau Randy telah kembali, dan itu artinya, harapannya kian pudar untuk mendapatkan jawaban pasti dariku.

Dia seolah mengerti apa yang aku rasa, hingga perlahan dia mulai mundur, meski itu tak  terlihat jelas, akan tetapi aku bisa melihat dari sikpanya, meski  terkadang dia masih memberi kabar padaku. Walau hangan dengan sms singkat.

Tapi aku…? Aku seakan lupa padanya, aku kembali asyik dengan Randy. Hari-hariku kembali dihiasi dengan bayangan Randy.

Hingga suatu malam Randy datang dengan kedua orang tuanya untuk meminangku. Entah kenapa aku langsung mengiayankan, tanpa berfikir lebih dahulu.

Sa’at aku menyampaikan kabar itu pada kak Ronie, dia tersenyum, meski aku bisa melihat raut kecewa diwajahnya, akan tetapi kak Ronie berusaha menyembunyikannya. Ma’fkan Dinda kak… bisikkku dalam hati. aku sadar jika selama ini aku telah mempermainkan nya.




Sayup-sayup suara adzan terdengar berkumandang dari masjid dekat komplek rumahku.

Astagfirullah… ternyata telah masuk waktu subuh.

Perlahan  kulangkahkan kaki menuju tempat berwudu’, aku ingin menghapus semua keraguan dihatiku, hanya Allah tempatku mengadu, hanya-Dia yang mampu memberiku ketenangan, ku yakin, semua ini adalah ketentuan dari-Nya.

2 raka’at sholat subuh telah mambuat hatiku kembali tentram, kembali kurebahkan tubuhku diranjang mungil kesayanganku, sa’at mataku mulai terpejam, aku mendengar handponeku  berdering, setelah aku cek, ternyata ada pesan masuk.



“Adikku.., hapuslah semua  keraguan dihatimu, suatu sa’at engkau akan tau bahwa keputusanmu ini tidaklah salah, yakinlah, semua ini adalah takdir dari Allah..kakak bahagia karena akhirnya impianmu untuk menikah dengan pangeran hatimu akhirnya terwujud. Engkau perlu ingat satu hal, setiap orang punya cara tersendiri untuk menunjukkan rasa cinta dan sayangnya, pun begitu dengan calon suamimu. Jangan pernah sesali keputusanmu. Jadilah istri yang sholehah, yang selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk suamimu, ikhlaslah dalam mengabdi padanya, karena dialah Sorga dan Nerakamu. Mungkin sa’at ini bagimu kakak adalah laki-laki yang pas untukmu, tapi Allah lebih tau adikku….. Selamat berbahagia bidadariku”.



Ah…kak Ronie… semoga engkau pendapatkan istri yang sholehah…sungguh beruntung wanita yang akan menjadi istrimu kelak.



Kamis, 18 Agustus 2011

" Haruskah Aku Dimadu....??"


Stop Pak..stop..stop…!!seorang Ibu paruh baya mendadak minta sang sopir menghentikan laju busnya, karena si Ibu  merasa dia melewatkan halte tempat dia turun.



Bug…!!! Aduh…indah meringis kesakitan karena kepalanya terbentur kekaca  bus yang di rem secara mendadak oleh sang sopir. Indah menoleh ke belakang sambil mengusap keningnya yang  agak lebar , tapi sedikit tertutupi dengan jilbab pink yang ia kenakan.


Lamunan Indah terpaksa  buyar karena peristiwa tadi. Sedari tadi Indah berusaha memutar otaknya agar dia menemukan solusi untuk  seorang sahabat yang tadi  menceritakan problem yang sedang dia hadapi, dan bagi Indah problem ini sangatlah  rumit jalan keluarnya, dan diapun tak boleh memberi solusi yang asal-asal saja karena ini menyangkut masa depan  dua keluarga.

Sampai sa’at ini dia masih teringat perbincangan nya dengan sahabatnya tadi. Sebetulnya indah hari ini harus masuk kantor, akan tetapi dia sengaja meliburkan diri karena sahabatnya Weny menelpon dia untuk mau datang kerumahnya secepatnya, katanya ada sesuatu yang ingin dia ceritakan, dan Weny sudah tak mampu lagi menghadapinya sendiri. Ternyata suaminya ingin memberikan “ sahabat baru” untuk dirinya dan anak-anaknya alias Poligami.



Indah kaget mendengar penjelasan Weny sahabatnya itu, setau dia rumah tangga mereka baik-baik saja, malahan Indah kenal dengan baik Putra suami Weny.



Putra  bekerja di sebuah perusahaan di ibu kota. Setau Indah, Putra adalah tipikal suami yang sangat baik, tak segan menbantu mencuci, membersihkan rumah, menyiapkan makanan sendiri,  bahkan, semua yang ingin dilakukan istri, dikerjakan sendiri oleh Putra. Indah menjadi heran dan bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa bisa seperti ini.



Perlahan dia telusuri pokok permasalahan dari sahabatnya itu. Pelan-pelan dia bertanya dari hati kehati pada Weny,  kebetulan Indah adalah lulusan Psikologi dari sebuah universitas, jadi dia bisa mengetahui watak clientnya, sehingga dia bisa dengan mudah memasuki area fikiran sang client, termasuk Weny sahabatnya.



“ Oh ia… sebelumnya aku minta ma’af ya kalau seandainya pertanyaanku nanti agak sedikit mendetail dan  sedikit memasuki ruang privasi kamu” perlahan Indah menjelaskan pada Weny.


“ It’s ok.. nggak apa-apa kok In..” jawab Weny dengan tatapan sayu.


Indah terdiam agak lama.  Sesaa’t kemudian Weny  melangkah kedapur untuk menyediakan secangkir teh hangat untuk sekedar menghangtkan tubuh  mereka, karena siang itu hujan turun sangat deras mengguyur kota Medan yang sudah 3 bulan ini kering kerontang karena terpaan panas matahari yang tiada lelah menaungi kota yang terkenal khas dengan tarian Tor-Tor itu.



“ Wen.. setau aku suami  kamu itu orangnya nggak neko-neko, nggak mungkin dia ambil keputusan poligami secara tiba-tiba tanpa ada sebabnya” kembali Indah membuka percakapan



Weny hanya terdiam, sesekali pandangannya menatap kosong kedepan, seakan-akan dia juga memikirkan hal yang sama dengan Indah.



“ Dan aku juga tau tentang kamu sedari kita sekolah dahulu.” Sela Indah lagi



Putra kenal dengan Weny sejak Putra kelas 1 SMA dan Weny kelas 6 SD. Umur mereka memang terpaut sangat jauh. Sampai saat Putra berumur 27 tahun, Putra  belum juga menemukan pasangan  yang pas untuk dirinya, hingga akhirnya Putra mencoba mendekati Weny. singkat cerita  merekapun akhirnya menikah.



“ Setau aku…jika seorang suami memutuskan untuk menikah lagi, pasti ada yang kurang pada istrinya. Baik itu menyangkut kepatuhan seorang istri, kebersihan diri, keikhlasan melayani suami, malah terkadang karena masalah yang sifatnya  kadang di anggap biasa bagi sebagian perempuan, contohnya saja masalah ranjang atau kebutuhan biologis” Indah mencoba memancing Weny



“aa..apa In…maksud kamu apa….?” Weny tergagap dengan kata-kata indah tersebut

“ Ia…masalah kebutuhan biologis, kamu pasti lebih tau dengan apa yang aku maksud”

“ Masa itu harus dipermasalahkan sih In..”

Indah tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya itu, meskipun dia belum menikah, akan tetapi dia mengetahui sedikit banyaknya beberapa point penting dalam kehidupan berumah tangga.



“ ia…. memang nggak masuk akal kalau bagi kita perempuan, tapi kamu tau bukan, laki-laki itu menikah bukan hanya untuk mendapatkan keturunan semata, akan tetapi dia juga membutuhkan tempat untuk menyalurkan kebutuhan biologinya, karena takut  jatuh pada Zina, makanya dia memutuskan untuk menikah, agar Allah tak murka dan juga untuk menyelamatkan kesuciannya dirinya” jelas indah lagi.


Rasulullah Saw bersabda, "Wahai para pemuda, siapa diantara kalian telah memiliki ba'ah (kemampuan) maka menikahlah, kerena menikah itu menjaga pandangan dan kemaluan. Bagi yang belum mampu maka puasalah, karena puasa itu sebagai pelindung. (HR Muttafaqun'alaih


Kembali Weny hanya membisu mendengar penjelasan Indah. Memang selama ini dia seolah enggan, terkadang bahkan dengan halus suaminya didorong menjauh ketika hendak “beribadah”. Hasrat itu jarang sekali terpenuhi, kadang sampai 3-4 minggu.



Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau seseorang lelaki mengajak istrinya ketempat tidurnya, tetapi istri itu tidak mendatangi ajakannya tadi, lalu suami itu menjadi marah pada malam harinya itu, maka para malaikat melaknati - mengutuk - istri itu sampai waktu pagi.” (Muttafaq ‘alaih)



Dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim yang lain lagi, disebutkan demikian: “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam. bersabda: “Apabila seseorang istri meninggalkan tempat tidur suaminya pada malam harinya, maka ia dilaknat oleh para malaikat sampai waktu pagi.”



Selang 2 tahun pernikahan, mereka dikaruniai anak. Dan mereka mulai mengontrak rumah sendiri. Tak ada yang berubah, Weny masih jarang menyediakan diri, sementara suami berupaya melakukan apapun yang dia ingin istrinya lakukan agar kebituhannya terpenuhi.


** ** **

Putra melangkah gontai  menelusuri koridor  kantornya, jam sudah  menunjukkan pukul 16.00 WIB, sa’atnya jam kantor usai, akan tetapi dia tak lansung pulang, dia mampir dulu di café vavoritnya untuk menenangkan fikiran yang sedang berkecamuk. Mejanya bergetar, ternyata ada pesan masuk di Hp nya, disana terpampang sebuah nama yang sekarang ini ikut mondok dihatinya, Neni.



Neni adalah teman SMA nya dulu yang sudah 17 tahun hilang kontak. Dulu Putra sempat menyimpah rasa terhadap  Neni, demikian pula sebaliknya, namun Neni terburu keluar dari sekolah karena menikah dini. Usia mereka terpaut 1 tahun, Neni setahun lebih tua dari Putra.



Dan sekarang Allah kembali mempertemukan mereka. Ternyata Neni telah 7 tahun menjanda, dengan 1 orang anak. Tak dapat dielakkan lagi, benih-benih cinta yang dulu sempat gugur, sekarang seakan kembali menjalar dan subur. Pertemuan mereka semakin intens. Putra seperti menemukan kembali belahan jiwanya yang sempat hilang, hal yang sama juga dirasakan oleh Neni. Mereka tak bisa menepis rasa itu hingga hubungan mereka kembali berlanjut, dan Putra  berjanji pada Neni akan menikahinya, meski Neni tau kalau Putra masih berstatus sebagai seorang suami, namun Neni bersedia jika dia dijadikan yang kedua.



Putra semakin bingung,karena sa’at ini Weny istrinya tengah mengandung anak mereka yang ke-3. Pernah suatu kali Putra mencoba menjauhi Neni, dia mencoba tak lagi berhubungan dengannya, menghapus semua nomer Hp. Dia mencoba menghapus semua tentang Neni demi menjaga perasaan istrinya, demi menghindari pertengkaran yang kian hari kian sering terjadi, karena ternyata hubungan gelapnya dengan Neny tercium oleh istrinya. Weny mengetahui melalui sms yang tak sengaja ia baca dari Hp putra.



Weny merasakan rumah tangganya seperti di neraka, setiap hari yang terjadi pertengkaran demi pertengkaran, dia tak rela jikalau dia harus dimadu, dia tak bisa menerima kehadiran orang baru dalam cinta mereka, dia tak mau jika suaminya menikah lagi. Dia lebih memilih bercerai.



Putra sudah berbicara padanya dari hati ke hati, dan Putra pun menjelaskan bahwa Neni lebih tua 6 tahun dari Weny, akan tetapi, penjelasan itu tak dapat mengubah keinginan Weny untuk bercerai.


Weny menyadari kesalahannya selama ini, dia menyadari dirinya yang tak pernah sepenuh hati melayani suminya, meskipun 1 bulan setelah kelahiran anak mereka yang ketiga, dia telah berusaha sebaik mungkin memperbaiki dirinya,  tetap saja tak bisa merubah keinginan suaminya untuk menikahi Neni.

Dan Weny pun tetap pada pendiriannya, Bercerai. Akhirnya Putra menyetujui keinginanya itu, dengan syarat  anak-anak mereka besarkan bersama.