Sabtu, 01 Oktober 2011

Ibu... Kapan Giliranku...?

 oleh : M. Jono Ag

Pintu kamar itu tertutup. Segala kegundahan dan kejengkelan yang ia dapatkan siang ini ditumpahkan dengan tangis yang terisak. Dengan menutup wajah dengan bantal yang sudah mulai basah oleh air mata Ukhti berusaha tegar. Hatinya teriris, tak tahu harus menyalahkan siapa. Mereka yang ngomong, keadaan ataukah takdir?

Ibundanya yang sejak tadi memperhatikan raut muka Ukhti ketika masuk kamar juga mulai gelisah. Tidak seperti biasanya anak gadisnya yang sekarang berusia 27 tahun itu uring-uringan. Diketuklah pintu kamar itu dengan perlahan, "Nak, buka pintunya, ibu mau masuk!" Mendengar ibunya yang mengetuk pintu, segera Ukhti membukanya setelah sebelumnya berusaha menghapus air mata yang masih meleleh di pipinya.

Ia segera memeluk ibunya. Ia tumpahkan semuanya ke dalam dekapan sang ibu yang memang oleh Allah diberikan sifat menenangkan dan menyejukkan hati anak-anaknya. "Kenapa nak, pulang undangan kok nggak ceria seperti biasanya, khan temanmu itu yang nikah?" Ukhti belum mampu menjawab pertanyaan ibundanya. Tangisnya kembali pecah.

Mengetahui anaknya seperti itu, ibunya membiarkannya sampai tangisnya berhenti. Dirapikannya jilbab anaknya yang tampak kusut. Beberapa saat kemudian Ukhti tampak mulai tenang dipelukan ibundanya. "Ini bu, tadi pada saat ketemu teman-teman di acara pernikahan itu. Sebagian besar teman-temanku sudah berumah tangga ternyata. Bahkan sebagian lagi sudah punya anak. Semua pada nanyain Ukhti kenapa belum nikah ?" Ukhti berusaha tenang dan duduk di pinggir ranjang. Begitu juga ibunya.

"Yang bikin jengkel Ukhti ketika mereka mengatakan kalau nikah diduluin adiknya biasanya susah dapat jodoh katanya, belum lagi yang lain memamerkan anak-anaknya ke dapanku sambil mengatakan kalau Ukhti seharusnya sudah menikah, takutnya kalau kelewat umur akan susah punya anak." Kali ini ibundanya menarik nafas panjang. Kalau mau jujur, bukan bagi Ukhti saja beban itu tertumpu. Tapi juga bagi ibu dan keluarga besarnya.

Setahun yang lalu memang adik Ukhti duluan mengakhiri masa lajang. Melewati dua orang kakaknya. Sebentar lagi kakak Ukhti juga akan segera menikah. Jadilah Ukhti yang di tengah-tengah kelewat. Mungkin bagi beberapa orang tua hal itu sangat menggelisahkan kalau sang kakak diduluin adiknya. Padahal tidak ada syariat yang mengatur kalau pernikahan harus urut sesuai umur.

"Sabar nak, Allah masih belum mempertemukan kamu dengan jodohmu. Nggak masalah siapa yang harus duluan, karena jodoh itu mutlak rahasianya Allah. Kita hanya bisa ikhtiar dan berdo’a saja," ibundanya menasehati. "Nggak usah terlalu dimasukkan hati apa kata orang dan apa kata teman-temanmu, semua orang punya ujian sendiri-sendiri, mungkin saja Allah sedang menguji kesabaranmu untuk kelak dipertemukan dengan jodohmu yang sholeh."

Di masyarakat kita memang sebagian menganggap bahwa pernikahan yang baik adalah kalau orang tua bisa menikahkan anak-anaknya urut sesuai umur. Sehingga kalau harus melangkahi sang kakak akan menjadi beban psikologis tersendiri bagi sang kakak yang dilewati maupun keluarganya. Akan jadi lebih berat kalau sang orang tua juga meyakini hal itu. Tentu beban berat akan disandang oleh sang kakak.

Kalau kita fikir dengan hati yang jernih harusnya kita malu dengan aturan atau kebiasaan seperti itu. Tidakkah kita ingat bahwa jodoh, lahir, maut itu sudah ada catatan yang lengkap di Lauhil Mahfudz? Apapun usaha kita tetap saja takdir Allah yang akan terjadi. Kita hanya wajib berusaha dan berdo’a, selebihnya serahkan hasilnya kepada Yang Menggenggam Takdir. Karena tanggal perkawinan, siapa jodoh kita, kapan rizki turun kepada kita dan kapan malaikat maut mendatangi kita adalah hak-Nya.

Belum lagi mitos di masyarakat kita yang mengatakan kalau sudah umur 30 bagi perempuan akan seret jodohnya, akan sulit punya anak atau bila perlu harus dibawa ke dukun untuk dibuka tabir jodohnya. Naudzubillah min dzalik.

Bahkan di beberapa daerah sampai ada yang harus menaruh foto di pohon yang tinggi atau fotonya ditaruh di laut agar jodohnya segera nyangkut. Masya Allah.

Percayalah pada saat kita datang ke dukun untuk minta bantuan agar jodoh kita segera dibuka, pertama kali yang akan ditanyakan pasti: apakah dulu sudah ada yang pernah hendak melamar, atau pernah ada yang naksir tapi tidak diterima atau bahkan siapa mantan pacarnya dulu. Dan begitu kita jawab ada, pasti syetan yang membisiki si dukun akan menjadikan orang yang kita sebut sebagai target atau orang yang harus dicurigai. Itulah akal-akalan syetan. Bahkan kadang-kadang sampai berani mengatakan bahwa jodohnya ditahan sama mantannya. Begitu kita percaya maka prasangka yang macam-macam akan bergelayut di otak kita. Yakin yang akan kita curigai bukan seorang semata, pasti termasuk keluarga besarnya. Begitulah memang cara keji syetan menggelincirkan kita.

Dari situ biasanya sang dukun juga memberikan "resep balasannya", sehingga tanpa sadar akan terjadi saling curiga dan bermusuhan. Padahal sebenarnya syetan pun tidak akan tahu siapa dan kapan jodoh kita akan datang, karena itu adalah hal ghaib yang tak mungkin mereka mengetahuinya. Karena kalau syetan tahu takdir manusia tentu akan dibocorkannya kepada manusia agar bisa terlepas dari takdir yang mungkin tidak baik baginya.

Akan berbeda keadaannya kalau sang kakak yang dilewati mapun keluarga besarnya menganggap pernikahan yang harus tidak urut sebagai sesuatu yang biasa saja, sesuai kehendak Allah SWT. Kalaupun kalau salah satu dari anak atau saudara kita yang harus di duluin adiknya seharusnya tetap saja kita harus ber-khusnudhon kepada Allah. Karena ujian dari Allah terhadap umatnya pasti berbeda-beda. Semakin tinggi tingkat kedekatan dan ketaqwaan seseorang kepada Allah pasti ujiannya akan semakin berat. Tentu para nabi dan Rasul yang akan menerima ujian paling berat. Beda dengan ujian yang biasa dilakukan oleh manusia. Pada saat UN tingkat SMA tentu soalnya akan sama di setiap sekolah dan bagi semua peserta ujiannya. Kalau Allah menguji kita pasti dengan "keunikan cara"-Nya. Dan tidak akan sama ujian satu orang dengan yang lainnya. Subhanallah.

Jadi sangat tidak layak kalau kita membandingkan ujian orang lain dengan diri kita karena memang beda. Bisa jadi Allah menunda jodoh seseorang karena itu demi kebaikannya, atau Allah sedang mempersiapkan dia untuk kelak dipertemukan dengan imam keluarga yang sholeh dan bisa membawa keluarganya ke dalam ridho-Nya.

Atau bahkan kita yang justru diberi Allah kemudahan ketemu jodoh, memiliki anak yang lucu-lucu dan tanpa kita sadari kelak justru akan jadi ujian yang berat bagi kita. Wallahu a’lam. Yang jelas kita harus yakin apa yang dijanjikan Allah dalam Qur’an surat An-Nuur ayat 26, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."

Maka bersabarlah dan ridholah terhadap semua ketentuan / takdir Allah bagi kita. Karena Allah-lah yang jauh lebih tahu kebutuhan kita dari pada kita sendiri. Dan jangan lupa kesabaran sesorang akan mengangkat derajat manusia di hadapan Allah, dan kalau kita sudah dimuliakan Allah semua makhluk juga akan memuliakan kita. Dan bisa jadi Allah menjadikan waktu penantian itu sebagai ladang amal bagi kita kalau kita ikhlas menerimanya. Wallahu a’lam.

 

Mutiara Di Pinggir Kali

Oleh M .jono AG

Senyum yang selalu mengembang ditambah pelukan hangat terasa menjalar di seluruh tubuhku setelah beliau menjawab salamku. Aku merasakan seperti pelukan seorang ayah terhadap anaknya , walaupun usia ayahku mungkin 10 atau 15 tahun lebih tua dari beliau .Aku sengaja ‘’sowan’’ ke beliau setelah usai jamaah Magrib , karena biasanya jam – jam segitu belaiu mempunyai waktu yang sedikit longgar.

Alasan kedua kenapa aku memilih ba’da Magrib adalah kebiasaan beliau menerima tamu setelah jamaah pasti di lakukan di musholla yang terletak persis hanya sekitar 10 meter dari bibir bengawan Solo yang secara geografis membelah Jawa Tengah dan Jawa Timur persis di Cepu.Jembatan yang membentang menjadi garis demarkasi perbatasan kedua wilayah propinsi tersebut sehingga disana sering jadi anekdot kalau bepergian antar kota antar propinsi cukup jalan kaki dijembatan tersebut.

Musholla itu tidak terlalu besar , sekitar 4x6 m dan terdapat pintu yang langsung nyambung dengan rumah beliau yang persis di belakangnya sehingga kalau selepas ustadz Syai’in memimpin sholat berjamaah bisa langsung menemui tamu yang hendak bertemu beliau .

Obrolan kami diawali dengan menanyakan kabar masing – masing karena hanya waktu cutilah kami bisa bertemu .Obrolan ringan itu semakin menarik ketika aku menanyakan bagaimana perkembangan jamaah selama ramadhan yang baru berlalu kemarin.Aku melihat wajah beliau kelihatan sumringah . Akupun menikmati suasana ini , berarti Allah telah menurunkan sesuatu pada beliau yang memang sedari dulu berdakwah untuk mengembangkan syiar Islam di sekitar tempat tinggalnya.

Setelah mempersilahkan kami minum , beliau bercerita kalau ramadhan kali ini Allah ‘’ menitipkan ‘’ beberapa jamaah baru yang sebelumnya maaf mereka adalah pemuda yang hoby mabuk-mabukan . Allah telah membuka hati mereka lewat keluhuran akhlaq ustad z Syai’in walaupun belaiu sendiri tidak senang di panggil ustadz .Beliau lebih senang dipanggil pak Syai’in saja katanya agar lebih akrab.

Aku berusaha mengorek lebih dalam kiat beliau menarik mereka menjadi jamaah di musholla kecilnya . Karena dulu memang terdapat kondisi yang sangat kontras antar dua kampung di sekitar tempat tinggal beliau.Satu kampung dengan tingkat religius yang tinggi sedang satu kampung yang satunya justru banyak yang jauh dari agama dan banyak pemudanya yang hoby mabuk-mabukan.

Naluri dakwah beliau yang selalu bergelora , menggelitik hatinya untuk merangkul mereka. Beliau mulai melihat dimana para pemuda itu ngumpul , jam berapa ngumpulnya dan berapa orang anggotanya.Setelah beliau tahu persis jadwal mereka mulailah strategi itu dimainkan.Kebiasaan beliau yang selalu santun terhadap siapapun menjadi modal yang sangat berguna baginya.

Kebetulan beberapa hari awal Ramadhan ustadz Syai’in beberapa kali diundang tetangga dan jamaahnya yang tasyakuran . Beberapa kali juga oleh – oleh dari tuan rumah tidak dibawanya pulang melainkan diantar ke tempat mereka walaupun sore itu belum waktunya buka puasa. Justru menjadi alasan yang tepat untuk mengingatkan mereka yang justru mabuk-mabukan di gardu ronda pada saat yang lain berpuasa .Seolah tidak tahu latar belakang mereka pak Syai’in dengan santainya mengantarkan makanan itu ke mereka : ‘’ Ini mas untuk buka puasa nanti sore .’’

Yang menerima dengan gugup bercampur kaget berusaha berdiri tegak walaupun ternyata masih kelihatan sempoyongan karena yang datang kali ini adalah tokoh yang dihormati warga di sekitar kampung itu. Tidak juga memarahi mereka tapi justru memberi makanan oleh-oleh tasyakuran beberapa bungkus , cukup untuk mereka berlima.Mungkin karena masih sedikit punya kesadaran , beberapa botol minuman keras itu berusaha disembunyikan dibawah bangku . Pak Syai’in hanya tersenyum lihat tingkah mereka.

Suatu saat ketika pak Syai’in hendak berangkat mengajar dan lewat di gardu ronda itu tanpa sengaja melihat salah seorang dari mereka sedang memotong rambut temannya.Seperti biasa disamping membunyikan klakson motor tua yang beliau kendarai , pak Syai’in mengucapkan salam kepada mereka . Lama kelamaan mereka menjadi terbiasa dan tidak asing lagi dengan pak Syai’in.

Kesempatan terbuka luas , selang beberapa hari kemudian kebetulan rambut beliau mulai panjang maka tidak di sia-siakan kesempatan yang Allah bukakan untuknya. Dengan PD beliau datangi mereka untuk minta potong rambut.Awalnya mereka kikuk menerima tawaran itu , tetapi setelah beliau menjelaskan bahwa tukang cukur langganan beliau sedang keluar kota akhirnya mereka mau . Tapi aneh mereka takut kalau harus memegang kepala beliau . Mereka beralasan nggak pantas memegang kepala tokoh yang dihormati masyarakat di sekitar situ , takut kualat katanya.

Dengan santai pak Syai’in menjelaskan bahwa derajat mereka sama saja di depan Allah , tidak ada beda antara yang dipanggil ustadz maupun mereka yang memungut sampah dijalanan. Semua punya porsi masing – masing di kehidupan ini. ‘’Ya beda pak antara kami dengan bapak , kami kerjaannya nongkrong , minum dan tanpa tujuan hidup yang jelas sedangkan bapak sangat dekat dengan agama .’’ kata mereka. Pak Syai’in tersenyum dalam hati , berarti sebenarnya mereka juga tahu mana yang baik dan mana yang buruk .

‘’ Lha ayo mas , coba-coba datang ke musholla , wong musholla itu dulu juga bikinan orang tua kalian ‘’ imbuh pak Syaiin dengan penuh kebapakan . ‘’ Malu pak , mana ada yang mau terima kita macam begini ?’’ jawab mereka kompak. ‘’ Lho malu sama siapa mas ?’’ pak Syai’in kembali bertanya. ‘’Malu pada orang –orang pak , sudah terlanjur ‘’ jawab salah satu dari mereka . Pak Syai’in berdiri setelah salah seorang yang mencukur tadi mengisyaratkan kepada beliau bahwa telah selesai potong rambutnya .

Pak Syaiin tidak langsung pulang . Beliau berdiri dan memegang pundak salah satu dari mereka.’’Mas ,itulah kita manusia , kita sering malu untuk berbuat baik tapi tidak malu kalau maksiat kepada Allah , termasuk diri saya ‘’jelasnya. Seketika mereka berempat tertunduk , tidak bisa ngomong apa – apa lagi.Hati kecil mereka mengakui apa yang disampaikan beliau benar , cuman butuh keberanian untuk berubah.

Satu dua kali belum berhasil membawa mereka untuk ke musholla tidak membuat pak Syai’in menyerah. Dia yakin tentang kisah kesabaran Rasulullah SAW yang setiap hari menyuapkan makanan kepada seorang Yahudi buta yang sangat membenci nabi. Hingga suatu saat ketika baginda nabi wafat peran itu diteruskan oleh sahabat Abu bakar RA .Namun si Yahudi walaupun buta tapi tahu kalau saat ini yang menyuapinya bukan orang sebelumnya. Ketika dia tahu yang biasa menyuapinya adalah Muhammad yang sangat dia benci selama ini keadaan berubah 180 derajat .Hidayah Allah menuntunnya ke jalan Islam.

Demikian juga pak Syai’in , menjelang 10 hari terakhir Ramadhan rupanya Allah memberi jalan dan kemudahan. Pada saat pulang terlalu malam karena kendaraannya bermasalah , justru tawaran datang dari salah seorang mereka yang kebetulan membawa motor .Pak Syai’in sebenarnya agak ragu karena dari mulutnya masih bau alkohol. Tapi keyakinan yang kuat kepada Allah mengalahkan semuanya. Tawaran itu dimanfaatkan untuk mengantar langkah kaki mereka ke musholla . Sampai di musholla pak Syai’in menyuguhkan satu gelas air mineral kepadanya .

Dialog singkat terjadi .Setelah pak Syai’in menyampaikan rasa terima kasihnya sekali lagi beliau mengajak mereka untuk sama-sama sholat tarawih besuk malamnya .Dan 10 hari terakhir dimusholla yang asri di pinggir sungai bengawan solo itu bertambah jumlah makmumnya.Merekalah penyambut hidayah itu….. Subhanallah walhamdulillah.

Selasa, 27 September 2011

Hatiku di Persimpangan


Diluar hujan turun kian deras. Sesekali suara petir menyeruak memecah keheningan malam, suara nyanyian jangkrik tak lagi indah ku dengar, seakan suara itu bagaikan nyanyiaan kematian.

Jam sudah menunjukkan pukul  02.00 dini hari, akan tetapi , mataku masih belum bisa terpejam.

Air mata  seakan tiada henti membasahi pipiku, dadaku kian sesak, ingin rasanya teriak, kenapa harus seperti ini.

 “Adinda, ma’afkan kakak, kakak memang sangat mencintaimu, kakak sangat menyayangimu, akan tetapi, engkau telah dipinang oleh saudara seimanku, haram hukumnya  untuk merebutmu dari tangannya” suara datar itu menggetarkan hatiku dari ujung telepon.


“ Omong kosong..! kakak bohong..!, kalau memang kakak sayang sama Dinda, kenapa kakak nggak berani minta aku ke ayah, minta ke ayah untuk membatalkan pernikahan itu dan bilang ke ayah kalau kakak yang akan menikahiku” kataku serak menahan rasa jengkel 

 “Istigfar Dinda..! ingat, waktu kamu hanya tinggal 1 bulan lagi, kakak nggak mungkin meminangmu, dosa Dinda….! Coba kamu renungkan hadist Rosulullah Saw yang dulu pernah kakak kasih lihat kekamu, kamu tentu masih ingatkan..?”selanya lagi, agar fikiranku kembali jernih

Dengan tubuh yang lunglai aku berusaha mengingat  sabda  Rasulullah  sallallahu  ‘alaihi  wa sallam: “Janganlah seorang laki-laki meminang wanita yang  telah  dipinang  saudaranya  hingga  dia  menikah atau  telah  meninggalkannya”  (HR.  Bukhari  dan Nasa’i).  


Kata-kata kak Ronie di telepon tadi pagi masih terngiang ditelingaku. Aku menyesal dulu telah meninggalkannya, dan lebih memilih Randy.
Meskipun Randy  jauh lebih mapan dibanding kak Ronie yang sampai sa’at ini masih luntang lantung, akan tetapi hatiku kian terpaut padanya, aku merasakan kasih sayang yang diberikan kak Ronie sangat berbeda.
Ah…! Ada apa denganku Ya Allah….kenapa semakin dekat hari pernikahan kami, hatiku kian goyah, aku ingi sekali rasanya untuk pergi meninggalkan Randy, aku seakan menyesal menerima pinangannya. Apa yang harus aku lakukan.

Aku dan kak Ronie telah berteman sejak lama, meski usia kami terpaut sangat jauh, justru itu yang membuatku nyaman dekat dengannya. Setiap kali ada  masalah yang aku sulit pecahkan sendiri, kak Ronie selalu datang bagai malaikat penolong, aku semakin sering curhat padanya, tak terkecuali tentang permasalahanku dengan Randy.

Sampai suatu sa’at Randy meninggalkanku, dan itu tanpa alasan yang jelas, aku merasakan semuanya hancur sa’at itu, aku kehilangan gairah hidupku, dan kak Ronie lah yang selalu setia menghiburku, meski kadang gurauannya tak mampu mengusir pedihku, namun, dia tak pernah bosan membuatku untuk ceria lagi seperti dulu, dia tak pernah bosan mengingatkanku untuk tidak meningglkan kewajibanku terhadap Tuhanku, dia seperti tak kehilangan akal untuk membangkitkan kembali semangat hidupku yang seakan-akan telah mati.
Perlahan hatiku mulai bergantung padanya, aku akan merasa ada yang kurang jika sehari saja dia tak memberi kabar, meski itu hanya sebatas sms. Kian hari kami kian dekat, dan aku tak tau perasaan apa itu, apakah aku mulai menyayangi dia…? Entahlah, yang aku tau aku merasa nyaman , dan sosok Randy mulai samar dihatiku. 

Hingga suatu hari kak Ronie menyatakan isi hatinya kalau dia ternyata sudah lama menyimpan rasa untukku. Aku senang bercampur ragu. Aku tak tau harus memberi jawaban apa padanya, karena aku masih belum tau perasaan yang ku miliki, cintakah atau hanya sekedar rasa kagum, hingga beberapa kali dia meminta jawaban dariku, aku masih terus mengulurnya, tetapi aku juga tak mau dia pergi begitu saja, aku juga tak rela jika akhirnya dia memilih wanita lain. Ah....egoisnya aku.

Setahun berlalu, ternyata kak Ronie masih menunggu jawaban dariku. Tapi tetap saja, jawabanku masih samar, karena jujur, dalam lubuk hatiku paling dalam, aku masih menunggu Randy, aku masih mengharapkan kehadiran Randy.

Dan ternyata Allah menjawah do’a-do’aku. Sebulan kemudian entah angin apa yang membawa Randy datang menemuiku lagi, aku bahagia sekali, aku seakan lupa rasa sakit yang pernah ditorehkan Randy dihatiku. Dan hey…Randy ternyata datang untuk memintaku lagi, dia mengatakan kalau dia menyesal meninggalkanku, dan dia ingin menikah denganku, dan tentu saja aku bahagia, itu impianku sedari dulu.


Tapi……………


Bagaimana dengan kak Ronie..?  bagaimana dengan malaikatku..?


Ternyata kak Ronie sudah mengetahui semuanya, dia tau kalau Randy telah kembali, dan itu artinya, harapannya kian pudar untuk mendapatkan jawaban pasti dariku.

Dia seolah mengerti apa yang aku rasa, hingga perlahan dia mulai mundur, meski itu tak  terlihat jelas, akan tetapi aku bisa melihat dari sikpanya, meski  terkadang dia masih memberi kabar padaku. Walau hangan dengan sms singkat.

Tapi aku…? Aku seakan lupa padanya, aku kembali asyik dengan Randy. Hari-hariku kembali dihiasi dengan bayangan Randy.

Hingga suatu malam Randy datang dengan kedua orang tuanya untuk meminangku. Entah kenapa aku langsung mengiayankan, tanpa berfikir lebih dahulu.

Sa’at aku menyampaikan kabar itu pada kak Ronie, dia tersenyum, meski aku bisa melihat raut kecewa diwajahnya, akan tetapi kak Ronie berusaha menyembunyikannya. Ma’fkan Dinda kak… bisikkku dalam hati. aku sadar jika selama ini aku telah mempermainkan nya.




Sayup-sayup suara adzan terdengar berkumandang dari masjid dekat komplek rumahku.

Astagfirullah… ternyata telah masuk waktu subuh.

Perlahan  kulangkahkan kaki menuju tempat berwudu’, aku ingin menghapus semua keraguan dihatiku, hanya Allah tempatku mengadu, hanya-Dia yang mampu memberiku ketenangan, ku yakin, semua ini adalah ketentuan dari-Nya.

2 raka’at sholat subuh telah mambuat hatiku kembali tentram, kembali kurebahkan tubuhku diranjang mungil kesayanganku, sa’at mataku mulai terpejam, aku mendengar handponeku  berdering, setelah aku cek, ternyata ada pesan masuk.



“Adikku.., hapuslah semua  keraguan dihatimu, suatu sa’at engkau akan tau bahwa keputusanmu ini tidaklah salah, yakinlah, semua ini adalah takdir dari Allah..kakak bahagia karena akhirnya impianmu untuk menikah dengan pangeran hatimu akhirnya terwujud. Engkau perlu ingat satu hal, setiap orang punya cara tersendiri untuk menunjukkan rasa cinta dan sayangnya, pun begitu dengan calon suamimu. Jangan pernah sesali keputusanmu. Jadilah istri yang sholehah, yang selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk suamimu, ikhlaslah dalam mengabdi padanya, karena dialah Sorga dan Nerakamu. Mungkin sa’at ini bagimu kakak adalah laki-laki yang pas untukmu, tapi Allah lebih tau adikku….. Selamat berbahagia bidadariku”.



Ah…kak Ronie… semoga engkau pendapatkan istri yang sholehah…sungguh beruntung wanita yang akan menjadi istrimu kelak.