Kamis, 11 Agustus 2011

Sa’at Dia tak memilihku


        
Jam sudah penunjukkan pukul 12 siang, matahari bersinar sangat terik siang itu. Hujan telah lama tak membasahi bumi tempat kelahiran  Tuanku Imam Bonjol seorang pahlawan kebangaan penduduk Sumatera Barat itu, sehingga debu beterbangan kian kemari, sesekali melesat masuk kerongga mata yang tak pelak akan membuat si empunya mata akan merasa perih.

Indah mempercepat langkahnya, yang ada difikirannya sa’at ini adalah segera sampai di kantor tempat dia bekerja, kebetulan hari ini dia masuk agak telat karena malam tadi pukul 9 WIB neneknya meninggal, jadi dia harus masuk kerja setelah acara pemakaman selesai.
“Aduh.. panas nya…” Indah membatin , seraya mengayunkan secarik kertas ke wajahnya sehingga membuat jilbab hitam yang ia kenakan menari kian kemari. Langkahnya terhenti tatkala sebuah angkutan umum berhenti disampingnya, diapun lalu menaiki angkutan umum berwarna hijau tua itu. Rasa lelah dan gerah sedikit berkurang karena angkot melaju dengan cepat sehingga angin menyeruak masuk dan ikut nongkrong di dalam angkot . Didalam angkot itu tak hanya dia sendiri ,ada beberapa anak sekolahan dan ibuk-ibuk yang sepertinya juga habis dari kantor dan sekolahnya masing-masing. Semua larut dalam fikiran masing-masing. Kali aja mereka  mikirin menu buka puasa untuk kelurga di rumah,bisik Indah dalam hatinya,  kebetulan hari ini adalah hari ke empat puasa Ramadhan.

“Stop di depan ya Pak….” seru Indah, diapun turun dengan tak lupa membayar sewa dan ucapan terima kasih kepada pak Sopir karena dia telah sampai di depan kantornya dengan selamat, dan tentunya atas izin Allah jua.

Setelah selesai membereskan ruang kerjanya,Indah kembali berkutat dengan perkejaan nya, komputerpun dinyalakan. Diawali dengan menyelesaikan semua laporan keuangan  karena akan segera di kirim ke pimpinan yang sekarang sedang berada di luar kota.
Setelah semua selesai, untuk mengisi waktu luangnya, Indah membuka Yahoo massanger, niat hatinya untuk menyapa sang kakak yang sedang sibuk bekerja di kantornya, di pulau seberang. Meskipun tak pernah bertatap muka, tapi bagi Indah itu lebih dari cukup, karena baginya untuk menjadi saudara itu tak selalu harus dengan orang yang berada disekitar atau harus selalu dengan  orang yang dekat dengn kita atau sedarah, Karena  menurutnya umat muslim itu bersaudara.

“ Assalamu’alaikum wr wb kak…udah sholat dzuhur blum, selamat beraktifitas” sapa indah singkat, karena dia tau, jam segini pasti kakanya udah sholat. Karena waktu daerah mereka berbeda 1 jam.”
“ Wa’alaikumsalam wr wb.. alhamdulillah sudah Dik, kok baru nongol jam segini..?” tanya sang kakak.
“ ia kak..habis dari makam.. nenek meninggal” jawab Indah singkat”.
“ Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un.” balas sang kakak dari seberang sana.


Sa’at mereka tengah asik bercerita, tiba-tiba masuk sebuah email  dari salah seorang teman Indah, isi emailnya tentang undangan pernikahan temannya itu. Di sana terpampang jelas sebuah gambar undangan pernikahan lengkap dengan foto prawedding sang teman, Indah sedikit terkesima melihat foto sang mempelai laki-laki. Indah kaget bercampur haru. Ternyata si lelaki adalah seseorang yang selama ini Indah sukai, meski itu dalam diam.


Meskipun mereka pernah dekat, tapi itu hanya sebatas teman biasa, dan Indahpun tak pernah punya nyali untuk mengutarakan isi hatinya,kecuali pada diary yang senantiasa setia mendengar setiap curhatan Indah. Paling-paling indah hanya menuangkan dalam sebuah puisi.
Di penghujung senja..
Duduk termenung seorang diri…
Galau tak menentu..
Resah tak karuan..

 Sedih..tapi tak tau sebabnya apa
Ku hanya tau…rasa itu mulai menggerogotiku lagi....
Dia mulai menghantui hatiku lagi..
Rasa takut kehilangan…
Rasa cemburu yang membuat dada sesak..
Rasa rindu pada sosok yang masih belum halal bagiku

Kemana harus kumengadu…?
Ke langit biru…? Dia malah menertawakanku..seraya berkata “ salahmu wahai temanku…karna kau tak sabar menyinsing waktu”..
            
Akupun tertunduk….dan berkata..” kau benar”..

Akupun mengeluh pada angin yang menderu....
Dan dia berucap “bukankah kau tau teman…bermain hati akan mengotori hatimu sendiri…?”

Benar pula apa yang kau kata wahai angin…tapi…
Belum selesai aku membalas kata’nya…
Matahari yang siap masuk ke peraduannya menyela
“ Temanku sayang….lupa kah kau bahwa Allah akan Menguji kamu pada hal yang cenderung sangat kamu cintai dan sayangi…Allah akan menilai Imanmu disana…dank au juga perlu ingat bahwa nafsu dan syetan juga selalu mengintai ….”
 Aku Terperangah mendengar kata’ nya….lidahku kelu..ingin ku ucapkan beribu kata  untuk memenangkn hati dan perasaanku…tapi sia’..aku tak mampu
Ya Allah…Aku harus gimna…agar hatiku kembali tentram…agar hilang sesak didada…
  Aku Kembali Tertunduk….
     Dari kejauhan aku medengar suara halus yang selama ini  setia mengingatkanku,,,dia berucap

..” Wahai kekasihku…Sabar….Lupakahkau akan tujuan Hidup yang sesungguhnya…? Lupakah kau akan inginmu…inginku…Lupakah kau…Hakikat Cinta yang sesungguhnya..? apa perlu ku ingatkan kembali bahwa Cinta yang Sesungguhnya itu hanya untuk Allah..? tak rindukahkau menjadi salah seorang Hamba yang selalu dirindukan Allah.. menjadi hamba yang disayangi malaikat’ dan Rosulnya..?
aku tau tak mudah tuk mencapai itu semua…akan banyak rintangan yang harus kau lalui..dan itu PASTI…!
Aku mengerti perasaanmu…aku tau apa yang kau rasa..kau cemburu..? takut akan kehilangan…? Sadarkah kau wahai temanku….Sosok itu belum halal bagimu..atau mungkin takkan pernah menjadi milikmu..! janganlah kau siksa batin dan fikiranmu..tak Ibakah….?  Sabarlah hingga waktu yang tlah ditentukan...."   

Ahh….Nuraniku…trimaksih tlah mengingatkanku selalu…


Indah merasakan ada tetesan bening jatuh dipipinya yang agak tirus, Karena beberapa hari ini dia memang kurang istrahat disebabkan harus lembur setiap malamnya.
Sedih dan bahagia bercampur jadi satu.

Bahagia karena sahabatnya Intan mendapatkan suami yang sholeh, seorang lelaki yang dia tau latar belakangnya. Laki-laki yang  baik dan bertanggung jawab, yang juga telah mengisi relung hatinya selama ini.
Nama yang sering mengisi dalam sholat malam nya, dan ternyata Allah telah menjawab doa’-do’anya.. bahwa si pangeran memanglah bukan untuk dirinya, Akan  tetapi untuk sahabat  yang sangat dia sayangi, seorang sahabat yang  telah ikut andil sehingga dia  dengan sepenuh hati menggunakan kerudung hingga sa;at ini.
Dan Indah mengerti mencintai tak mesti  menikahi. Akan tetapi menikahi haruslah mencintai yang dinikahi, sesusah apapun itu.

Dia teringat suatu firman Allah Surah An-Nur ayat  26.      
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”


Sebuah senyum kecil kembali mengembang di bibirnya, dia menghela nafas panjang dan kembali mengumpulkan puing-puing tenaga yang sempat tercecer karena menerima surat undangan itu. Dan dengan segenap kesabaran dan pengharapan kepada sang Maha Pemilik hati, dia hanya berharap agar Allah mempertemukan dia dengan seseorang yang telah di takdirkan Allah untuk dirinya. Tak lagi mau mendikte Allah.

Karena Boleh jadi yang kita pandang baik untuk kita sebenarnya belum baik dimata Allah
Bahwa pilihan Allah lah yang pasti terjadi dan tidak pernah salah.


Selamat Menempuh Hidup Baru wahai Sahabatku…


Kamis, 21 Juli 2011

Antara LABA dan PAHALA


Dua kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya identik dengan keuntungan, baik itu dalam sebuah usaha/ bisnis, maupun dalam pergaulan. Tak jarang orang selalu memikirkan keduanya itu, selalu memeprtimbangkan  kedua primadona itu. Terlebih dalam hal  Laba atau keuntungan.

Ya…Laba, sungguh sangat diperhatikan dan diperhitungkan setiap orang dalam memulai setiap usahanya. Itu sangatlah pasti dan sangat masuk akal, siapa sih didunia ini yang mau rugi dalam menjalani usahanya, pasti nggak ada donk…, apalagi dalam  zaman yang serba edan dan rumit seperti sa’at sekarang ini. apapun  akan dilakukan agar  mendapatkan laba/keuntungan yang besar, terkadang melupakan  konsep halal dan haram, na’uzubillah..



Tak jarang orang rela mencurangi timbangan dalam berdagang, hanya karena ingin mendapatkan laba yang besar, tak mau rugi sedikitpun, dia akan bangga jika usahanya kian meningkat dari hasil kecurangannya itu. Dia tak menyadari tumpukan laba yang dia peroleh sebenarnya sebentuk tumpukan api yang kian lama kian besar yang dapat mengahancurkan semua usahanya.



Contoh kecilnya saja jika seseorang pelanggannya mengetahui kecurangan nya itu, tak ayal lagi si pelanggan akan berpindah ketoko yang lain, dan pastinya pelanggannya tak hanya seorang saja bukan..?



Dia lupa akan adab jual beli dan hukumnya, yang dia fikirkan hanya ingin mendapatkan keuntungan yang besar, tanpa dia sadari sebenarnya dia mengahancurkan usahnya perlahan. Dia mengahancurkan keberkahan rezeki yang dia peroleh, rezeki yang awalnya berkah berubah menjadi ancaman dan bencana yang dapat meluluh lantakkan semua hartanya itu.


“Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau bersabda, 'Barang siapa yang memesan sesuatu maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), serta hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.'" (Muttafaqun 'alaih)



Bagaimana pula dengan pahala…?

Pahala adalah berlian yang bisa dibawa kemana saja, bahkan ke alam kubur sekalipun. Akan tetapi banyak dari kita yang memandang sepele  harta yang satu ini, termasuk diri saya sendiri. Kalau mengenai tentang harta yang akan dibawa ke akherat, terkadang kita lebih suka melalaikan, akan berfikir berkali-kali untuk melakukan.


 Contohnya saja dalam hal bersedekah. Tak jarang kita memilah-milah uang yang akan diberkan, terkadang memilih yang nilainya kecil dan bentuknya kucel. Aneh memang, tapi itulah kenyataan yang sering kita temui. Kita terkadang sangat enggan berbagi sedikit rejeki kita kepada saudara yang mungkin bisa dibilang kurang beruntung dari kita, dengan alasan tak ada recehlah, gak sempatlah, atau kadang kita membatin “ ah.. kuat begitu malah minta-minta, kerja napa.. dipikir mencari uang itu gampang apa…..? 

Tanpa kita sadari kita telah mengotori rezeki yang telah Allah titipkan kepada kita, kita tak pernah membayangkan bagaimana seandainya kita yang berada diposisi mereka..? sanggupkah..? seharusnya kita bersyukur masih diberikan hidup yang layak.


Mungkin terkadang anggapan kita itu benar adanya, terkadang mungkin mereka malas berusaha, kita bisa lihat dari kekarnya tubuh mereka, masih bisa berjalan dengan baik, tubuh mereka yang sehat, dan terkadang malah lebih cool di banding kita.

Tapi kita juga harus ingat kalau Allah juga tak pernah pilih kasih dalam memberikan rejeki kepada hamba-Nya. Allah akan memberikan rejeki meski terkadang kita malas-malasan menunaikan kewajiban kita, meski kita kerap lupa pada yang Maha Pemberi, kita beranggapan ini adalah kerja keras kita sendiri, hasil keringat kita, hasil kerja keras otak kita, tanpa kita ingat lagi yang menganugerahi itu semua siapa. Betapa sombong dan pongahnya kita.

 
Bisa saja Allah mengambil kepintaraan yang kita punya, Allah mengambil kembali tenaga kuat kita, Allah mencabut nikmat sehat kita, hanya dengan lentikan jari saja, terus kit amau apa..? apakah masih bisa ngomong ..” hei.. lihat ini aku yang kaya, aku yang hebat, aku yang pintar “ apa masih bisa…? Tidak bukan..?

Apa susahnya berbagi sedikit  rejeki yang kita peroleh pada saudara kita, jangan lihat pada badannya yang kekar, pada baju nya yang bagus, pada penampilannya yang mungkin boleh dibilang tak layak jika disebut  sebagai (ma’af) pengemis. Terserah mereka berpenampilan seperti apa, kewajiban kita hanya memberi, bukan menilai atau menghakimi bahwa sedekah itu benarkah buat musholla atau buat anak yatim yang mereka gunakan sebagai sejata ampuh untuk menarik simpati kita. 

 
Ingat.. kewajiban kita memberi, kalaupun kita tidak bersedia memberi sedikit receh kepada mereka, hendaknya kita tak menambah dengan prasangka dan dugaan yang belum tentu benar, dan pastinya akan merusak pahala yang telah kita raih dengan susah payah.

Jika dibandingkan dengan kocek yang keluarkan untuk keperluan yang terkadang tak begitu penting, kita tak segan-segan mengeluiarkan uang jutaan rupiah. Bahkan untuk jenis makanan yang sangat mahal, baju yang mahal.

Bukankah dengan memberi maka harta kita akan semakin subur dan bertambah…? Mungkin tidak dibalas dengan harta, tekadang dibalas dengan kesehatan dan sebagainya.
Allah berfirman :



لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya “ ( Al Baqarah : 93 )
Rosulullah saw bersabda : “Setiap perbuatan baik yang bermanfaat bagi orang lain adalah sedekah




" Suamiku..., Apa Yang Menutupi Hatimu..?"


Prangkkk….!! semua berhamburan, piring-piring dan gelas pecah berserakan.

Plakk…!! kembali tamparan mendarat dipipiku, aku hanya bisa meringis menahan sakit, pipiku lebam. Mungkin sudah tak bisa lagi dihitung dengan jari saking seringnya aku dapat hadiah tamparan dari suamiku jika dia sedang marah.

Dia tak peduli dengan sakit yang aku rasakan, dia tak pernah menghiraukan ngilunya sendiku setelah dia membanting tubuhku ke lantai, ceceran darah dipipiku dia anggap biasa saja.

Sifatnya itu tak pernah ku temui sewaktu kami masih berpacaran dahulu. Sungguh berbeda.


Kemarahannnya sungguh tak beralasan, hanya karena rasa cemburu yang membakar hatinya.
Sifat cemburunya tak dapat lagi diterima akal sehat. Jika aku pergi kewarung untuk sekedar membeli keperluan dapur, dia akan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan, “ Habis dari mana, tadi bertemu dengan siapa saja, kamu bicara dengan siapa saja, laki-laki mana saja yang ajak kamu ngobrol, kamu berbicara tentang apa saja..? dan banyak lagi.


Ya Allah…… aku sungguh tak tahan dengan keadaan ini. aku sungguh lelah…, aku merasa tepasung dalam istanaku sendiri…..

Jika dia berangkat kerja, aku selalu dikurung di rumah, jendela dan pintu selalu di tutup, aku sama sekali tidak diizinkan bergaul dengan lingkunganku. Terkadang aku malu dengan tetangga.

Hampir setiap hari kami bertengkar walau itu hanya masalah sepele. Dia selalu mengutamakan egonya.
Apalagi jika sa’at di panggil aku agak telat merespon, dia langsung marah.

Yang makin membuat hatiku sakit….tatkala malam tiba, dia seperti menganggap tak pernah terjadi apapun pada kami disiang hari, meski dia masih bisa melihat bekas tamparan tangan kekar nya dipipiku, dia dengan leluasanya menikmati “ sajian malam” nya tanpa rasa bersalah ataupun mengluarkan sebait kata ma’af karena telah menyakitiku. Terkadang aku bertanya dalam hati “ sebenarnya hati suamiku terbuat dari apa..”? Astaghfirulllah!..


Pernah suatu hari Ikhsan anak kami melihat pertengkaran kami. Dia sangat ketakutan tatkala suamiku memukul serta membanting tubuhku kelantai hingga pelipisku berdarah yang menyebabkan pendengaranku agak sedikit terganggu.

Anakku gemetar dan ketakutan hingga dia pipis dicelananya, anakku yang semula periang berubah menjadi pendiam, dia selalu ketakutan jika ada orang asing yang menyapanya, dia sangat susah didekati, dia tak mau lagi datang kesekolah. Dia selalu menangis jika disuruh kesekolah, hingga akhirnya aku terpaksa menitipkan dia untuk sementara di rumah orang tuaku, agar mentalnya kembali stabil. Dia mengalami depresi berat. Aku kasihan jika dia terus-menerus menyaksikan kami bertengkar..


Aku berusaha sekuat tenagaku mempertahankan pernikahanku, walau sejujurnya aku sudah tidak kuat diperlakukan seperti itu oleh suamiku. Dalam hati aku masih sangat menyayangi suamiku meski sikapnya seperti itu.


Aku sangat sedih dengan sikap suamiku..Bukankah seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang…. ? Jikalaupun si istri melakukan kesalahan apa mesti di tegur dengan tamparan dan pukulan…?


Sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ
“Sesungguhnya Allah Mahalembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim
Aku teringat lirik lagu yang pernah aku putar sewaktu aku belum menikah dulu.


“Ia ibarat kaca yang berdebu jangan terlalu keras membersihkannya Nanti ia mudah retak dan pecah...
Ia ibarat kaca yang berdebu jangan terlalu lembut membersihkannya... Nanti ia mudah keruh dan ternoda...
Ia bagai permata keindahan... Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
ia sehalus sutera di awan... jagalah hatinya dengan kesabaran...
Lemah lembutlah kepadanya namun jangan terlalau .. Tegurlah bila ia bersalah namun jangan lukai hatinya. “


Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok, ketika dibiarkan dia akan makin bengkok namun ketika ditarik dengan keras dia akan patah.

RASULULLAH Shalallahu 'Alaihi Wasallam adalah sosok pria yang ketika beliau dengan kesabaranya menghadapi banyak sikap dari para istri beliau. Beliau adalah seorang suami yang rela berdiri berjam-jam untuk menjadi sandaran istrinya ('Aisyah) ketika ia ingin melihat suatu pertunjukan olah raga pedang para sahabat. Padahal waktu itu usia beliau sudah masuk usia senja.

Beliau juga tidak serta merta memarahi istrinya ('Aisyah) ketika ia salah memasukkan sesuatu kedalam minuman Rasulullah , yang seharusnya ia masukkan gula namun garam yang tercampur didalamnya. Namun dengan bijaknya beliau tersenyum dan berkata wahai Istriku minuman yang kau buat sangatlah nikmat, Aisyah pun menjawab benarkah Ya...Rasulullah?" Kemudian Aisyah mencicipi minuman tersebut dan....Wajahnya memerah karena sangat malu juga khawatir kalau kalau Rasulullah marah.

Namun Rasulullah sudah dapat membaca kekhawatiran tersebut dan tersenyum pada istrinya dengan penuh sayang.

Firman Allah Ta‘ala, "Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik." (An-Nisa': 19).


Setiap sujud malamku.. aku selalu ber do’a agar Allah melunakkan hatimu suamiku. Aku hanya bisa memohon kepada yang Maha membolak balikkan hati manusia agar engkau berubah , Aku tak ingin pernikahan ini hancur…, bagaimanapun aku sangat mencintaimu karena Allah, karena aku yakin Allah Maha Pemurah.  Sehingga kuat keyakinanku bahwa kita akan memetik buah yang indah dan manis pada akhirnya ,
Kembalillah ke jalan Allah suamiku, simpan tangan dan kekuatanmu untuk menegakkan kalimat Allah, bukan untuk meremukkan tulang rusukmu sendiri. Simpan amarahmu untuk musuh – musuh Allah yang kita wajib bersikap keras terhadapnya, bukan kepadaku yang selalu mendampingimu. Kami merindukan imam yang tegas dalam hal yang Allah mengharuskan kita tegas terhadapnya dan lemah lembut terhadap keluarga dan sesame muslim .

* Buat suamiku… semoga kau membaca note’sku ini..*
-------------------------------------------------------------
Cerita ini terinspirasi dari kisah hidup kakak saya..