Jumat, 12 Agustus 2011

Aku dan Kekasih Suamiku. Part.1


Namaku Zahra.. aku anak bungsu dari 3 bersaudara, diusiaku yang masih terbilang muda, aku telah mengecap setengah dari sukses dalam kehidupan, itu menurutku.

Seperti yang sering  dibilang orang-orang terhadapku, mereka selalu berkata aku beruntung, sudahlah punya wajah cantik, kaya, punya penghasilan dan kedudukan yang lumayan tinggi di perusahaan tempatku bekerja dan perusahaan itu selalu jadi incaran setiap orang.

Aku merasa diawan…aku senang dengan kata-kata mereka, aku bahagia. Aku merasa beruntung.Alhamdulillah ya Allah…

Kebahagiaanku semakin sempurna, karena tak berapa lama lagi aku akan segera mengakhiri masa lajangku. Ya….. aku akan menikah dengan seorang lelaki yang sangat aku sayangi. Aku akan bersanding dengan pangeran hatiku…. Hatiku berbunga, aku serasa memeluk bulan. Aku sungguh beruntung bisikku…..

Aku baru mengenalnya 2 bulan belakangan ini. aku dikenalkan oleh seorang teman. Namanya Zaki, dia laki-laki yang sangat ramah, perhatian, dan sangat pengertian terhadapku. Kalau soal idabadahnya aku tak pernah memikirkan itu, karena dalam fikiranku, setelah menikah nanti dia akan berubah seiring berjalannya waktu. Itulah yang ada dalam fikiranku sa’at itu. Aku melupakan syarat yang satu itu, syarat yang paling utama.



لَا تَنْكِحُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَلَعَلَّهُ يُرْدِيهِنَّ ، وَلَا لِمَالِهِنَّ فَلَعَلَّهُ يُطْغِيهِنَّ ، وَانْكِحُوهُنَّ لِلدِّينِ ، وَلَأَمَةٌ سَوْدَاءُ خَرْقَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ
Janganlah kalian menikahi perempuan karena cantiknya. Boleh jadi kecantikan tersebut akan membinasakannya. Jangan pula karena hartanya karena harta boleh jadi akan menyebabkannya melampaui batas. Menikahlah karena agama. Sungguh budak hitam yang cacat namun baik agamannya itu yang lebih baik” (Ibnu Majah no 1859-pent).

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, 15  Januari 2011 adalah Tahun yang sangat bersejarah dalam hidupku.
Pernikahanku sungguh meriah, aku melihat pancaran kebahagiaan dari wajah-wajah orang-orang yang aku cintai, mereka keluargaku, belahan jiwaku.

Acara walimah berlangsung haru…air mataku bercucuran sa’at ijab qobul berlangsung, aku telah memenuhi separoh Dienku…Alhamdulillah Ya Allah….Aku bahagia…Terimakasih atas anugerah yang telah Engkau berikan…., Engkau telah memberikan penggantinya lebih cepat dari yang aku kira.

Perlu diketahui, sebelum menikah dengan Zaki, aku  telah mempunyai calon suami, laki-laki yang aku kenal sewaktu SMP dulu, dia kakak kelasku,namanya Reno, tetapi hubungan kami tak mendapat restu dari kedua orang tuanya, hancurlah harapan kami untuk  hidup bersama. Cintaku Kandas. Aku kalut sa’at itu, aku depresi berat.. karena orang dilingkunganku telah tau bahwa kami akan segera menikah. Hingga Zaki datang dalam hidupku., semua berangsur-angsur pulih, aku kembali menemukan semangat hidupku.

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.(Al-Baqarah: 216)


Sekarang aku telah resmi menjadi istri Zaki , aku telah menjadi nyonya Zaki Prasetyo. Bahagianya aku mempunyai suami yang sangat lembut dan sayang  padaku.

Tapi…………….              


                      
Itu tak berlangsung lama, tepat  pada bulan ke-2 pernikahan kami, Ujian itu datang. Istana kecilku mulai goyah, gerimis mulai datang, kian lama kian deras. Ujian pernikahan datang sa’at umur pernikahan kami masih berusia seumur jagung.


Aku melihat gelagat yang aneh dari suamiku, dia mulai tertutup padaku, bahkan hanpone nya pun selalu dia kunci, tak pernah lagi dia taroh seperti biasa, kekamar mandipun selalu ia bawa,  bahkan nomernyapun aku tak lagi tau. Awalnya aku berusaha menanggapi biasa saja, tapi hati kecilku berkata lain, hatiku berbisik bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. Dan rasa curigapun mulai menyelinap masuk dalam fikiranku.
Pernah suatu hari aku membuntuti dia pergi, aku ikuti secara diam-diam. Aku pergi dengan adik iparku, adik dari suamiku, namnya Fitri, Dan apa yang terjadi….? aku melihat suamiku mendatangi sebuah kost-an putri, aku melihat seorang perempuan keluar dari rumah itu, mereka terlihat sangat akrab, aku nggak bisa melihat wajahnya secara jelas.


Tapi tiba-tiba Fitri berkata..


“ Loh kak.. itukan mba’ Rani, ngapain mereka malam-malam begini ketemuan, lagi pula mereka kan udah putus…”

“ Apa..? maksud kamu apa Fit…?   

“ Ia kak……itu mba Rani, mantan pacarnya kak Zaki,..”

“Mantan …? “ 

Aku coba mengingat nama itu, aku sepertinya pernah dengar nama itu, tapi dari siapa dan kapan…? Oh ia…. sebelum menikahiku mas Zaki pernah bercerita kalau dia baru putus dengan seorang  gadis, namanya Rani, mereka putus karena hubungan mereka tidak mendapat restu dari orangtua mereka masing-masing. Rani masih berstatus seorang mahasiswi disebuah Fakultas Kedokteran ,semester akhir.

Tapi kenapa sekarang mereka  ketemu lagi..? Aku semakin bingung. Kenapa suamiku tak pernah cerita kalau dia akan bertemu dengan Rani. Apa lagi malam-malam begini. 

Aku terus saja membuntuti mobil mereka, aku mengikuti kemana mereka pergi. Aku berusaha menjaga jarak agar suamiku tak melihat mobilku.  Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku buru-buru pulang karena aku takut dia akan tau kalau aku tidak berada dirumah, aku takut dia curiga. Lagi pula besok Fitri harus ke kampus pagi-pagi sekali.

Ternyata benar dugaanku, tak berapa lama aku sampai di rumah, suamikupun pulang. Aku bersikap seperti biasa, aku pura-pura tidak tau atas apa yang aku lihat tadi. Aku berusaha bersikap hangat terhadapnya. Aku berusaha tetap tenang.

Keesokan harinyapun sumiku semakin sering pulang malam, terkadang malah tak pulang sama sekali, waktu aku hubungi kerumah orang tuanya, mereka malah bingung.

“ Assalamu’alaikum…ini mama ya….?”mam..mas Zaki mampir kesana gak..?“
“ Wa’alaikumsalam...ianak..nggak tuh.. Zaki sudah seminggu tidak mampir,..memangnya suamimu nggak ada di rumah.. kan ini sudah malam sekali nak..”
Aku terdiam…kemudian aku kembali mendengar suara dari seberang sana
“ halo..Zahra..kamu masih disana sayang…”
“ Oh.. ia mam…..mm.. itu.. tadi mas Zaki bilang katanya dia ada acara di luar kota, Zahra pikir dia mampir.., ya udah deh ma.. gak apa-apa., selamat malam ya Mam….Assalamu’alaikum..” telephone ku tutup dengan berjuta pertanyaan dibenakku.

Aku mencoba menelusuri informasi tentang Rani melalui situs jaringan social, aku mencari account Fb dan Twitternya., dan Alhamdulillah aku menemukannya.

Ternyata begitu gampang mencari dan membongkar hubungan mereka, disitus itu mereka mengobral kemesraan yang sangat berlebihan.. dan aku mulai mengikuti perkembangan komunikasi mereka lewat situs itu dan makin menyakitkan sekali apa yg aku baca disana, tak kuasa membendung semua itu akupun mulai mengikuti alur status yang di update sama perempuan itu, setiap apa yang mau mereka lakukan pasti ditulis disitus itu dan membuat aku gampang untuk mengetahui apakah mereka masih berhubungan atau tidak.

Anehnya.., setiap aku bercerita tentang hubungan gelapnya dengan wanita itu suami ku itu selalu berkilah dan bahkan sering menjelek-jelekan wanita itu kepadaku dan membuat aku tak percaya kalau dia menjalin hubungan dengan wanita itu. Kadang aku jadi ragu, bener gak ya suamiku ada hubungan dengan wanita itu”  bisikan itu yg selalu terngiyang-ngiyang ditelingaku saat suamiku tak berada disampingku.

Aku melihat photo profilnya mesra banget dengan suamiku. Dan status relationshipnya terhubung ke suamiku, aku juga melihat pesan-peesan mesra dari suamiku, mereka saling berbalas pesan di wall nya. Aku sedih bercampur marah. Semua campur aduk. Bathin dan emosiku mulai bergejolak untuk membuktikan semua itu.
Aku berusaha menutupinya dari suamiku, aku masih ingin bukti yang lain, agar aku tak lagi dibilang mengada-ada, dan selama masa pencarianku.. aku berusaha tetap tenang, meski itu sulit bagiku, sangat teramat sulit mengatur emosiku, dadaku terasa sesak, aku dikhianati.. aku merasa tak dihargai.. aku dibohongi.

Setiap hari aku memantau twitter mereka.. dan tetap sama dengan hari-hari kemarinnya, malah mereka semakin mesra.



Kamis, 11 Agustus 2011

Sa’at Dia tak memilihku


        
Jam sudah penunjukkan pukul 12 siang, matahari bersinar sangat terik siang itu. Hujan telah lama tak membasahi bumi tempat kelahiran  Tuanku Imam Bonjol seorang pahlawan kebangaan penduduk Sumatera Barat itu, sehingga debu beterbangan kian kemari, sesekali melesat masuk kerongga mata yang tak pelak akan membuat si empunya mata akan merasa perih.

Indah mempercepat langkahnya, yang ada difikirannya sa’at ini adalah segera sampai di kantor tempat dia bekerja, kebetulan hari ini dia masuk agak telat karena malam tadi pukul 9 WIB neneknya meninggal, jadi dia harus masuk kerja setelah acara pemakaman selesai.
“Aduh.. panas nya…” Indah membatin , seraya mengayunkan secarik kertas ke wajahnya sehingga membuat jilbab hitam yang ia kenakan menari kian kemari. Langkahnya terhenti tatkala sebuah angkutan umum berhenti disampingnya, diapun lalu menaiki angkutan umum berwarna hijau tua itu. Rasa lelah dan gerah sedikit berkurang karena angkot melaju dengan cepat sehingga angin menyeruak masuk dan ikut nongkrong di dalam angkot . Didalam angkot itu tak hanya dia sendiri ,ada beberapa anak sekolahan dan ibuk-ibuk yang sepertinya juga habis dari kantor dan sekolahnya masing-masing. Semua larut dalam fikiran masing-masing. Kali aja mereka  mikirin menu buka puasa untuk kelurga di rumah,bisik Indah dalam hatinya,  kebetulan hari ini adalah hari ke empat puasa Ramadhan.

“Stop di depan ya Pak….” seru Indah, diapun turun dengan tak lupa membayar sewa dan ucapan terima kasih kepada pak Sopir karena dia telah sampai di depan kantornya dengan selamat, dan tentunya atas izin Allah jua.

Setelah selesai membereskan ruang kerjanya,Indah kembali berkutat dengan perkejaan nya, komputerpun dinyalakan. Diawali dengan menyelesaikan semua laporan keuangan  karena akan segera di kirim ke pimpinan yang sekarang sedang berada di luar kota.
Setelah semua selesai, untuk mengisi waktu luangnya, Indah membuka Yahoo massanger, niat hatinya untuk menyapa sang kakak yang sedang sibuk bekerja di kantornya, di pulau seberang. Meskipun tak pernah bertatap muka, tapi bagi Indah itu lebih dari cukup, karena baginya untuk menjadi saudara itu tak selalu harus dengan orang yang berada disekitar atau harus selalu dengan  orang yang dekat dengn kita atau sedarah, Karena  menurutnya umat muslim itu bersaudara.

“ Assalamu’alaikum wr wb kak…udah sholat dzuhur blum, selamat beraktifitas” sapa indah singkat, karena dia tau, jam segini pasti kakanya udah sholat. Karena waktu daerah mereka berbeda 1 jam.”
“ Wa’alaikumsalam wr wb.. alhamdulillah sudah Dik, kok baru nongol jam segini..?” tanya sang kakak.
“ ia kak..habis dari makam.. nenek meninggal” jawab Indah singkat”.
“ Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un.” balas sang kakak dari seberang sana.


Sa’at mereka tengah asik bercerita, tiba-tiba masuk sebuah email  dari salah seorang teman Indah, isi emailnya tentang undangan pernikahan temannya itu. Di sana terpampang jelas sebuah gambar undangan pernikahan lengkap dengan foto prawedding sang teman, Indah sedikit terkesima melihat foto sang mempelai laki-laki. Indah kaget bercampur haru. Ternyata si lelaki adalah seseorang yang selama ini Indah sukai, meski itu dalam diam.


Meskipun mereka pernah dekat, tapi itu hanya sebatas teman biasa, dan Indahpun tak pernah punya nyali untuk mengutarakan isi hatinya,kecuali pada diary yang senantiasa setia mendengar setiap curhatan Indah. Paling-paling indah hanya menuangkan dalam sebuah puisi.
Di penghujung senja..
Duduk termenung seorang diri…
Galau tak menentu..
Resah tak karuan..

 Sedih..tapi tak tau sebabnya apa
Ku hanya tau…rasa itu mulai menggerogotiku lagi....
Dia mulai menghantui hatiku lagi..
Rasa takut kehilangan…
Rasa cemburu yang membuat dada sesak..
Rasa rindu pada sosok yang masih belum halal bagiku

Kemana harus kumengadu…?
Ke langit biru…? Dia malah menertawakanku..seraya berkata “ salahmu wahai temanku…karna kau tak sabar menyinsing waktu”..
            
Akupun tertunduk….dan berkata..” kau benar”..

Akupun mengeluh pada angin yang menderu....
Dan dia berucap “bukankah kau tau teman…bermain hati akan mengotori hatimu sendiri…?”

Benar pula apa yang kau kata wahai angin…tapi…
Belum selesai aku membalas kata’nya…
Matahari yang siap masuk ke peraduannya menyela
“ Temanku sayang….lupa kah kau bahwa Allah akan Menguji kamu pada hal yang cenderung sangat kamu cintai dan sayangi…Allah akan menilai Imanmu disana…dank au juga perlu ingat bahwa nafsu dan syetan juga selalu mengintai ….”
 Aku Terperangah mendengar kata’ nya….lidahku kelu..ingin ku ucapkan beribu kata  untuk memenangkn hati dan perasaanku…tapi sia’..aku tak mampu
Ya Allah…Aku harus gimna…agar hatiku kembali tentram…agar hilang sesak didada…
  Aku Kembali Tertunduk….
     Dari kejauhan aku medengar suara halus yang selama ini  setia mengingatkanku,,,dia berucap

..” Wahai kekasihku…Sabar….Lupakahkau akan tujuan Hidup yang sesungguhnya…? Lupakah kau akan inginmu…inginku…Lupakah kau…Hakikat Cinta yang sesungguhnya..? apa perlu ku ingatkan kembali bahwa Cinta yang Sesungguhnya itu hanya untuk Allah..? tak rindukahkau menjadi salah seorang Hamba yang selalu dirindukan Allah.. menjadi hamba yang disayangi malaikat’ dan Rosulnya..?
aku tau tak mudah tuk mencapai itu semua…akan banyak rintangan yang harus kau lalui..dan itu PASTI…!
Aku mengerti perasaanmu…aku tau apa yang kau rasa..kau cemburu..? takut akan kehilangan…? Sadarkah kau wahai temanku….Sosok itu belum halal bagimu..atau mungkin takkan pernah menjadi milikmu..! janganlah kau siksa batin dan fikiranmu..tak Ibakah….?  Sabarlah hingga waktu yang tlah ditentukan...."   

Ahh….Nuraniku…trimaksih tlah mengingatkanku selalu…


Indah merasakan ada tetesan bening jatuh dipipinya yang agak tirus, Karena beberapa hari ini dia memang kurang istrahat disebabkan harus lembur setiap malamnya.
Sedih dan bahagia bercampur jadi satu.

Bahagia karena sahabatnya Intan mendapatkan suami yang sholeh, seorang lelaki yang dia tau latar belakangnya. Laki-laki yang  baik dan bertanggung jawab, yang juga telah mengisi relung hatinya selama ini.
Nama yang sering mengisi dalam sholat malam nya, dan ternyata Allah telah menjawab doa’-do’anya.. bahwa si pangeran memanglah bukan untuk dirinya, Akan  tetapi untuk sahabat  yang sangat dia sayangi, seorang sahabat yang  telah ikut andil sehingga dia  dengan sepenuh hati menggunakan kerudung hingga sa;at ini.
Dan Indah mengerti mencintai tak mesti  menikahi. Akan tetapi menikahi haruslah mencintai yang dinikahi, sesusah apapun itu.

Dia teringat suatu firman Allah Surah An-Nur ayat  26.      
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”


Sebuah senyum kecil kembali mengembang di bibirnya, dia menghela nafas panjang dan kembali mengumpulkan puing-puing tenaga yang sempat tercecer karena menerima surat undangan itu. Dan dengan segenap kesabaran dan pengharapan kepada sang Maha Pemilik hati, dia hanya berharap agar Allah mempertemukan dia dengan seseorang yang telah di takdirkan Allah untuk dirinya. Tak lagi mau mendikte Allah.

Karena Boleh jadi yang kita pandang baik untuk kita sebenarnya belum baik dimata Allah
Bahwa pilihan Allah lah yang pasti terjadi dan tidak pernah salah.


Selamat Menempuh Hidup Baru wahai Sahabatku…


Kamis, 21 Juli 2011

Antara LABA dan PAHALA


Dua kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya identik dengan keuntungan, baik itu dalam sebuah usaha/ bisnis, maupun dalam pergaulan. Tak jarang orang selalu memikirkan keduanya itu, selalu memeprtimbangkan  kedua primadona itu. Terlebih dalam hal  Laba atau keuntungan.

Ya…Laba, sungguh sangat diperhatikan dan diperhitungkan setiap orang dalam memulai setiap usahanya. Itu sangatlah pasti dan sangat masuk akal, siapa sih didunia ini yang mau rugi dalam menjalani usahanya, pasti nggak ada donk…, apalagi dalam  zaman yang serba edan dan rumit seperti sa’at sekarang ini. apapun  akan dilakukan agar  mendapatkan laba/keuntungan yang besar, terkadang melupakan  konsep halal dan haram, na’uzubillah..



Tak jarang orang rela mencurangi timbangan dalam berdagang, hanya karena ingin mendapatkan laba yang besar, tak mau rugi sedikitpun, dia akan bangga jika usahanya kian meningkat dari hasil kecurangannya itu. Dia tak menyadari tumpukan laba yang dia peroleh sebenarnya sebentuk tumpukan api yang kian lama kian besar yang dapat mengahancurkan semua usahanya.



Contoh kecilnya saja jika seseorang pelanggannya mengetahui kecurangan nya itu, tak ayal lagi si pelanggan akan berpindah ketoko yang lain, dan pastinya pelanggannya tak hanya seorang saja bukan..?



Dia lupa akan adab jual beli dan hukumnya, yang dia fikirkan hanya ingin mendapatkan keuntungan yang besar, tanpa dia sadari sebenarnya dia mengahancurkan usahnya perlahan. Dia mengahancurkan keberkahan rezeki yang dia peroleh, rezeki yang awalnya berkah berubah menjadi ancaman dan bencana yang dapat meluluh lantakkan semua hartanya itu.


“Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau bersabda, 'Barang siapa yang memesan sesuatu maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), serta hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.'" (Muttafaqun 'alaih)



Bagaimana pula dengan pahala…?

Pahala adalah berlian yang bisa dibawa kemana saja, bahkan ke alam kubur sekalipun. Akan tetapi banyak dari kita yang memandang sepele  harta yang satu ini, termasuk diri saya sendiri. Kalau mengenai tentang harta yang akan dibawa ke akherat, terkadang kita lebih suka melalaikan, akan berfikir berkali-kali untuk melakukan.


 Contohnya saja dalam hal bersedekah. Tak jarang kita memilah-milah uang yang akan diberkan, terkadang memilih yang nilainya kecil dan bentuknya kucel. Aneh memang, tapi itulah kenyataan yang sering kita temui. Kita terkadang sangat enggan berbagi sedikit rejeki kita kepada saudara yang mungkin bisa dibilang kurang beruntung dari kita, dengan alasan tak ada recehlah, gak sempatlah, atau kadang kita membatin “ ah.. kuat begitu malah minta-minta, kerja napa.. dipikir mencari uang itu gampang apa…..? 

Tanpa kita sadari kita telah mengotori rezeki yang telah Allah titipkan kepada kita, kita tak pernah membayangkan bagaimana seandainya kita yang berada diposisi mereka..? sanggupkah..? seharusnya kita bersyukur masih diberikan hidup yang layak.


Mungkin terkadang anggapan kita itu benar adanya, terkadang mungkin mereka malas berusaha, kita bisa lihat dari kekarnya tubuh mereka, masih bisa berjalan dengan baik, tubuh mereka yang sehat, dan terkadang malah lebih cool di banding kita.

Tapi kita juga harus ingat kalau Allah juga tak pernah pilih kasih dalam memberikan rejeki kepada hamba-Nya. Allah akan memberikan rejeki meski terkadang kita malas-malasan menunaikan kewajiban kita, meski kita kerap lupa pada yang Maha Pemberi, kita beranggapan ini adalah kerja keras kita sendiri, hasil keringat kita, hasil kerja keras otak kita, tanpa kita ingat lagi yang menganugerahi itu semua siapa. Betapa sombong dan pongahnya kita.

 
Bisa saja Allah mengambil kepintaraan yang kita punya, Allah mengambil kembali tenaga kuat kita, Allah mencabut nikmat sehat kita, hanya dengan lentikan jari saja, terus kit amau apa..? apakah masih bisa ngomong ..” hei.. lihat ini aku yang kaya, aku yang hebat, aku yang pintar “ apa masih bisa…? Tidak bukan..?

Apa susahnya berbagi sedikit  rejeki yang kita peroleh pada saudara kita, jangan lihat pada badannya yang kekar, pada baju nya yang bagus, pada penampilannya yang mungkin boleh dibilang tak layak jika disebut  sebagai (ma’af) pengemis. Terserah mereka berpenampilan seperti apa, kewajiban kita hanya memberi, bukan menilai atau menghakimi bahwa sedekah itu benarkah buat musholla atau buat anak yatim yang mereka gunakan sebagai sejata ampuh untuk menarik simpati kita. 

 
Ingat.. kewajiban kita memberi, kalaupun kita tidak bersedia memberi sedikit receh kepada mereka, hendaknya kita tak menambah dengan prasangka dan dugaan yang belum tentu benar, dan pastinya akan merusak pahala yang telah kita raih dengan susah payah.

Jika dibandingkan dengan kocek yang keluarkan untuk keperluan yang terkadang tak begitu penting, kita tak segan-segan mengeluiarkan uang jutaan rupiah. Bahkan untuk jenis makanan yang sangat mahal, baju yang mahal.

Bukankah dengan memberi maka harta kita akan semakin subur dan bertambah…? Mungkin tidak dibalas dengan harta, tekadang dibalas dengan kesehatan dan sebagainya.
Allah berfirman :



لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya “ ( Al Baqarah : 93 )
Rosulullah saw bersabda : “Setiap perbuatan baik yang bermanfaat bagi orang lain adalah sedekah