Jumat, 28 Desember 2012


~ Bait Indah Untuk Sebuah Nama ~ 

Aku tak tau yg sekarang aku rasa
Aku bahagia, senang, ah, entahlah, semuanya menyatu
Aku hanya berani melihatmu dari kejauhan
Menyapa pun aku tak kuasa

Biarlah rasa ini ku simpan dalam jiwa
Biarlah Rasa ini ku pendam dalam diam
Karena memang, itulah yang terbaik

Kamu yang disana..

Sekejap Kebersamaan dalam canda
Kadang pandang beradu mata

Aku tau... ada yang lain dimatamu
Aku tau... ada yang indah dalam tanya mu

Tapi....
Biarlah semua kita endap dalam rasa
Karena kau Mahkluk kesayangan bidadari Syurga
Karena kau Mahkluk penjaga nafsu mata
Meski kadang kau pun tergoda, itukrna kau juga insan BIasa

Kamu Yang disana...

Tetaplah seperti itu
Tetaplah menjadi kau yg ku Puja, meski dalam gulita
Tetaplah menjadi permata tuk dia yg sempurna



Senin, 27 Agustus 2012

HIKMAH PUASA, KEMANA HARUS DICARI ?



Oleh :  Cece

                Puasa sudah masuk sepuluh hari terakhir.  Jadwal kuliah kaum muslimin bertambah dengan hadirnya kuliah subuh dan kuliah tujuh menit (Kultum ) atau oleh sebagian teman di buat anekdot kuliah terserah antum.  Materi  tentang hikmah puasa menjadi menu tambahan atau bahkan menu wajib selepas sholat Isya ataupun ba’da Subuh. Sehingga seharusnya hikmah puasa bukan menjadi sesuatu yang susah di cari apalagi dimengerti.

                Dibalik seringnya, saya dijelaskan tentang hadist Nabi yang menyatakan “ bahwa  banyak manusia yang ketika mengerjakan puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga, justru semakin takut saya dibuatnya. Adakah saya termasuk golongan itu……? Yang hanya dapat lapar dan haus tanpa sedikitpun bisa mencicipi apalagi merasakan indahnya hikmah puasa. Naudzubillah min dhalik

                Entah  saya yang kurang kuat godaan atau justru karena lingkungan  yang terlalu kuat mereduksi nilai – nilai puasa sehingga makin terasa hambar maknanya. Sering kita dengar salah satu hikmah puasa adalah agar kita bisa merasakan bagaimana susahnya saudara-saudara kita yang oleh Allah ditakdirkan tidak berkecukupan secara meteri. Puasa bagi mereka  mungkin tidak perlu latihan lagi karena hampir tiap hari mereka merasa lapar, kenapa? Karena memang tak ada yang bisa mereka makan. Mungkin tak  perlu lagi saya jelaskan sebabnya apa.

                Mereka bahkan sudah tidak bisa lagi membedakan bulan Ramadhan dengan bulan diluar Ramadahan soal rasa haus dan lapar. Hanya bedanya setiap bulan Ramadhan di banyak Masjid dan Musholla terdapat acara buka puasa bersama, sehingga kebutuhan ta’jil bisa terpenuhi tanpa harus mengeluarkan biaya.

                Berbanding terbalik dengan kondisi di atas justru banyak saudara-saudara kita yang membuat acara buka puasa bersama dengan rekan sekerja dikantor, dan kolega bisnis di restaurant mahal sebagai wujud rasa kebersamaan katanya. Sebagian hotel justru membuat acara khusus buka bersama ini dengan tarif per orangan ataupun group. Iftar jami’ ini menjadi salah satu icon bisnis masa kini.

                Coba kita lihat disekeliling kita, spanduk dan banner menu buka puasa terpampang dimana-mana, tentunya dengan harga yang untuk ukuran fakir miskin bisa untuk makan sekeluarga selama sehari atau bahkan lebih. Mediapun juga tak mau kalah menghipnotis kita dengan acara buka puasa mewah di beberapa tempat yang dilakukan para selebritis .

                Saya yakin memang ngumpul bareng, membangun  silaturahmi dengan cara seperti itu cukup bagus untuk mengikat keakraban , persaudaraan maupun pertemanan. Tidak ada yang salah memang. Jujur sayapun sering merasa rikuh kalau tidak datang pada undangan acara-acara tersebut. Mereka sudah menyiapkan segala sesuatunya, tapi entah kenapa saya sering enggann untuk terlalu sering memenuhi “undangan mewah” itu. 

Seharusnya puasa itu melatih orang untuk bisa ikut merasakan penderitaan mereka yang kekurangan, gimana rasanya berbuka puasa dengan ala kadarnya, dengan menu seadanya, jangankan untuk mencapai 4 sehat 5 sempurna, jangankan memikirkan  asupan gizi dari makanan yang mereka makan, cukup untuk membahasahi tenggorokan dan meredam suara gemuruh perut saja itu sudah lebih dari cukup  bagi mereka. 

Pernahkah terpikir dibenak kita, sa’at kita bingung memilih menu ta’jil ataupun menu untuk sahur , di luar sana mereka malah bingung memikirkan “apa yang harus dimakan hari ini….”?, sungguh miris. Terkadang banyaknya  sajian menu yang tersedia, malah banyak yang jadi mubazir karena saking banyak nya.
Kalau saja deretan daftar menu yang menghiasi meja makan dapat mengukirkan seulas  senyum di wajah-wajah lesu mereka, agar mereka juga bisa merasakan gimana rasanya kalau setiap berbuka puasa justru lebih mewah dari biasanya, dengan menu yang sangat jarang  mereka nikmati. Saya yakin, bukan hanya mereka saja yang merasakan bahagia, kita juga akan merasakan bahagia yang berlipat ganda dan puasa akan berasa lebih berkah dan  istimewa.

Jangan sampai puasa cuman ngerubah jadwal makan, dari siang ke malam dengan menu yang lebih hebat dari biasanya, jika itu yang terjadi, maka tak ada nikmat puasa yang bisa kita peroleh kecuali haus dan lapar saja. 

Dan pada hari-hari terkahir Ramadhan , kebiasaan masayarakat kita justru sibuk dengan kue lebaran ,baju baru, sepatu baru, dan thowaf di mall-mall, mestinya semakin sibuk dengan Qur'an dan Masjid, karena tak ada yang bisa menebak,  apakah ini justru ramadhan terakhir  bagi kita. Wallahualam bi shawab….





Sabtu, 01 Oktober 2011

Tunda Duniamu, Segerakan Akhiratmu

Oleh: Abi Sabila

“Yah, aku boleh nanya nda?” tanya seorang anak pada ayahnya. Saat itu mereka baru saja sholat Ashar di mushola salah satu tempat wisata.

Sang Ayah tersenyum. Ada yang tak biasa dengan putrinya. “Kamu itu lho! Beli jajan nda pakai ijin Ayah dulu, giliran nanya pakai minta ijin segala. Mau tanya apa?”

“Tapi Ayah janji, nda boleh marah ya?” sang bocah berusaha mensejajarkan langkahnya.

“Insha Allah. Ayo, mau tanya apa?”

“Ayah kalau nolong orang suka pilih-pilih, ya?” tanya sang anak, ragu-ragu.

Sang ayah menghentikan langkahnya, terkejut. “Maksudnya?”

“Iya, suka mbeda-bedain!” jawab sang anak santai. “Buktinya tadi waktu ada ibu-ibu mau pinjam mukena, Ayah nyuruh aku sholat dulu, baru meminjamkan mukenaku.

“Oh, itu!”

“Tadi siang, waktu aku antri di kamar mandi, Ayah minta aku ngalah, memberikan antrianku pada mbak-mbak yang pakai baju biru. Mentang-mentang dia lebih muda dan cantik ya, Yah?”

“Astaghfirulloh! Bukan begitu, anakku!”

“Lalu?”

“Begini. Ayah menyuruhmu mengalah saat antri di depan kamar mandi karena Ayah melihat orang itu sudah sangat kepayahan menahan sakit perutnya. Ayah tidak memperhatikan usia ataupun wajahnya, tapi Ayah bisa merasakan kecemasannya. Sejak datang, ia sudah memegangi perutnya. Ayah khawatir, jika kamu tidak memberikan antrianmu, dia tak bisa lagi menahan. Kalau itu sampai terjadi, apa kamu tega? Sementara kamu masih bisa menahan untuk berkemih.”


“Ibu-ibu yang di mushola? Apa tidak lebih baik jika aku meminjamkan mukena padanya dulu. Pahalaku kan jadi berlipat ganda!”

“Anakku, jika aku menyuruhmu sholat dulu baru meminjamkan mukenamu, sungguh bukan karena yang meminjam adalah seorang ibu-ibu. Bukan! Bukan itu. Ketahuilah, anakku. Sama-sama menolong, tapi untuk urusan dunia berbeda dengan urusan akhirat, atau ibadah. Untuk urusan dunia, kita dianjurkan mengutamakan kepentingan orang lain, kepentingan umum bahkan di atas kepentingan pribadi. Tapi untuk urusan ibadah, jika tidak bisa dilakukan bersama-sama, karena tidak membawa mukena seperti yang terjadi pada ibu tadi misalnya, tunaikan kewajiban sendiri dulu, baru orang lain.”


“Kok, begitu?”

“Begini, seumpama kamu diberi pilihan, siapakah yang akan memasuki pintu Surga pertama kali, apakah kamu akan memberikan kesempatan itu pada orang lain?”

“Tidak! Aku dulu.”



“Nah, begitulah gambarannya. Ini bukan akal-akalan Ayah, ini yang Rosululloh contohkan. Untuk urusan ibadah, jika tidak bisa bersama-sama, kita utamakan diri sendiri dulu. Bukan egois, bukan pula tidak peduli dengan orang lain, tapi agar kita selalu bersegera melakukan kebaikan ( ibadah ). Bisa dimengerti?




Sang anak hanya mengangguk.

“Masih menuduh Ayah pilih-pilih?”

Sang anak hanya menggeleng, tersipu malu.

“Untuk urusan dunia, kau boleh menunda keperluanmu, tapi untuk urusan ibadah, jangan tunda waktumu!”