Selasa, 27 September 2011

Hatiku di Persimpangan


Diluar hujan turun kian deras. Sesekali suara petir menyeruak memecah keheningan malam, suara nyanyian jangkrik tak lagi indah ku dengar, seakan suara itu bagaikan nyanyiaan kematian.

Jam sudah menunjukkan pukul  02.00 dini hari, akan tetapi , mataku masih belum bisa terpejam.

Air mata  seakan tiada henti membasahi pipiku, dadaku kian sesak, ingin rasanya teriak, kenapa harus seperti ini.

 “Adinda, ma’afkan kakak, kakak memang sangat mencintaimu, kakak sangat menyayangimu, akan tetapi, engkau telah dipinang oleh saudara seimanku, haram hukumnya  untuk merebutmu dari tangannya” suara datar itu menggetarkan hatiku dari ujung telepon.


“ Omong kosong..! kakak bohong..!, kalau memang kakak sayang sama Dinda, kenapa kakak nggak berani minta aku ke ayah, minta ke ayah untuk membatalkan pernikahan itu dan bilang ke ayah kalau kakak yang akan menikahiku” kataku serak menahan rasa jengkel 

 “Istigfar Dinda..! ingat, waktu kamu hanya tinggal 1 bulan lagi, kakak nggak mungkin meminangmu, dosa Dinda….! Coba kamu renungkan hadist Rosulullah Saw yang dulu pernah kakak kasih lihat kekamu, kamu tentu masih ingatkan..?”selanya lagi, agar fikiranku kembali jernih

Dengan tubuh yang lunglai aku berusaha mengingat  sabda  Rasulullah  sallallahu  ‘alaihi  wa sallam: “Janganlah seorang laki-laki meminang wanita yang  telah  dipinang  saudaranya  hingga  dia  menikah atau  telah  meninggalkannya”  (HR.  Bukhari  dan Nasa’i).  


Kata-kata kak Ronie di telepon tadi pagi masih terngiang ditelingaku. Aku menyesal dulu telah meninggalkannya, dan lebih memilih Randy.
Meskipun Randy  jauh lebih mapan dibanding kak Ronie yang sampai sa’at ini masih luntang lantung, akan tetapi hatiku kian terpaut padanya, aku merasakan kasih sayang yang diberikan kak Ronie sangat berbeda.
Ah…! Ada apa denganku Ya Allah….kenapa semakin dekat hari pernikahan kami, hatiku kian goyah, aku ingi sekali rasanya untuk pergi meninggalkan Randy, aku seakan menyesal menerima pinangannya. Apa yang harus aku lakukan.

Aku dan kak Ronie telah berteman sejak lama, meski usia kami terpaut sangat jauh, justru itu yang membuatku nyaman dekat dengannya. Setiap kali ada  masalah yang aku sulit pecahkan sendiri, kak Ronie selalu datang bagai malaikat penolong, aku semakin sering curhat padanya, tak terkecuali tentang permasalahanku dengan Randy.

Sampai suatu sa’at Randy meninggalkanku, dan itu tanpa alasan yang jelas, aku merasakan semuanya hancur sa’at itu, aku kehilangan gairah hidupku, dan kak Ronie lah yang selalu setia menghiburku, meski kadang gurauannya tak mampu mengusir pedihku, namun, dia tak pernah bosan membuatku untuk ceria lagi seperti dulu, dia tak pernah bosan mengingatkanku untuk tidak meningglkan kewajibanku terhadap Tuhanku, dia seperti tak kehilangan akal untuk membangkitkan kembali semangat hidupku yang seakan-akan telah mati.
Perlahan hatiku mulai bergantung padanya, aku akan merasa ada yang kurang jika sehari saja dia tak memberi kabar, meski itu hanya sebatas sms. Kian hari kami kian dekat, dan aku tak tau perasaan apa itu, apakah aku mulai menyayangi dia…? Entahlah, yang aku tau aku merasa nyaman , dan sosok Randy mulai samar dihatiku. 

Hingga suatu hari kak Ronie menyatakan isi hatinya kalau dia ternyata sudah lama menyimpan rasa untukku. Aku senang bercampur ragu. Aku tak tau harus memberi jawaban apa padanya, karena aku masih belum tau perasaan yang ku miliki, cintakah atau hanya sekedar rasa kagum, hingga beberapa kali dia meminta jawaban dariku, aku masih terus mengulurnya, tetapi aku juga tak mau dia pergi begitu saja, aku juga tak rela jika akhirnya dia memilih wanita lain. Ah....egoisnya aku.

Setahun berlalu, ternyata kak Ronie masih menunggu jawaban dariku. Tapi tetap saja, jawabanku masih samar, karena jujur, dalam lubuk hatiku paling dalam, aku masih menunggu Randy, aku masih mengharapkan kehadiran Randy.

Dan ternyata Allah menjawah do’a-do’aku. Sebulan kemudian entah angin apa yang membawa Randy datang menemuiku lagi, aku bahagia sekali, aku seakan lupa rasa sakit yang pernah ditorehkan Randy dihatiku. Dan hey…Randy ternyata datang untuk memintaku lagi, dia mengatakan kalau dia menyesal meninggalkanku, dan dia ingin menikah denganku, dan tentu saja aku bahagia, itu impianku sedari dulu.


Tapi……………


Bagaimana dengan kak Ronie..?  bagaimana dengan malaikatku..?


Ternyata kak Ronie sudah mengetahui semuanya, dia tau kalau Randy telah kembali, dan itu artinya, harapannya kian pudar untuk mendapatkan jawaban pasti dariku.

Dia seolah mengerti apa yang aku rasa, hingga perlahan dia mulai mundur, meski itu tak  terlihat jelas, akan tetapi aku bisa melihat dari sikpanya, meski  terkadang dia masih memberi kabar padaku. Walau hangan dengan sms singkat.

Tapi aku…? Aku seakan lupa padanya, aku kembali asyik dengan Randy. Hari-hariku kembali dihiasi dengan bayangan Randy.

Hingga suatu malam Randy datang dengan kedua orang tuanya untuk meminangku. Entah kenapa aku langsung mengiayankan, tanpa berfikir lebih dahulu.

Sa’at aku menyampaikan kabar itu pada kak Ronie, dia tersenyum, meski aku bisa melihat raut kecewa diwajahnya, akan tetapi kak Ronie berusaha menyembunyikannya. Ma’fkan Dinda kak… bisikkku dalam hati. aku sadar jika selama ini aku telah mempermainkan nya.




Sayup-sayup suara adzan terdengar berkumandang dari masjid dekat komplek rumahku.

Astagfirullah… ternyata telah masuk waktu subuh.

Perlahan  kulangkahkan kaki menuju tempat berwudu’, aku ingin menghapus semua keraguan dihatiku, hanya Allah tempatku mengadu, hanya-Dia yang mampu memberiku ketenangan, ku yakin, semua ini adalah ketentuan dari-Nya.

2 raka’at sholat subuh telah mambuat hatiku kembali tentram, kembali kurebahkan tubuhku diranjang mungil kesayanganku, sa’at mataku mulai terpejam, aku mendengar handponeku  berdering, setelah aku cek, ternyata ada pesan masuk.



“Adikku.., hapuslah semua  keraguan dihatimu, suatu sa’at engkau akan tau bahwa keputusanmu ini tidaklah salah, yakinlah, semua ini adalah takdir dari Allah..kakak bahagia karena akhirnya impianmu untuk menikah dengan pangeran hatimu akhirnya terwujud. Engkau perlu ingat satu hal, setiap orang punya cara tersendiri untuk menunjukkan rasa cinta dan sayangnya, pun begitu dengan calon suamimu. Jangan pernah sesali keputusanmu. Jadilah istri yang sholehah, yang selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk suamimu, ikhlaslah dalam mengabdi padanya, karena dialah Sorga dan Nerakamu. Mungkin sa’at ini bagimu kakak adalah laki-laki yang pas untukmu, tapi Allah lebih tau adikku….. Selamat berbahagia bidadariku”.



Ah…kak Ronie… semoga engkau pendapatkan istri yang sholehah…sungguh beruntung wanita yang akan menjadi istrimu kelak.



Kamis, 18 Agustus 2011

" Haruskah Aku Dimadu....??"


Stop Pak..stop..stop…!!seorang Ibu paruh baya mendadak minta sang sopir menghentikan laju busnya, karena si Ibu  merasa dia melewatkan halte tempat dia turun.



Bug…!!! Aduh…indah meringis kesakitan karena kepalanya terbentur kekaca  bus yang di rem secara mendadak oleh sang sopir. Indah menoleh ke belakang sambil mengusap keningnya yang  agak lebar , tapi sedikit tertutupi dengan jilbab pink yang ia kenakan.


Lamunan Indah terpaksa  buyar karena peristiwa tadi. Sedari tadi Indah berusaha memutar otaknya agar dia menemukan solusi untuk  seorang sahabat yang tadi  menceritakan problem yang sedang dia hadapi, dan bagi Indah problem ini sangatlah  rumit jalan keluarnya, dan diapun tak boleh memberi solusi yang asal-asal saja karena ini menyangkut masa depan  dua keluarga.

Sampai sa’at ini dia masih teringat perbincangan nya dengan sahabatnya tadi. Sebetulnya indah hari ini harus masuk kantor, akan tetapi dia sengaja meliburkan diri karena sahabatnya Weny menelpon dia untuk mau datang kerumahnya secepatnya, katanya ada sesuatu yang ingin dia ceritakan, dan Weny sudah tak mampu lagi menghadapinya sendiri. Ternyata suaminya ingin memberikan “ sahabat baru” untuk dirinya dan anak-anaknya alias Poligami.



Indah kaget mendengar penjelasan Weny sahabatnya itu, setau dia rumah tangga mereka baik-baik saja, malahan Indah kenal dengan baik Putra suami Weny.



Putra  bekerja di sebuah perusahaan di ibu kota. Setau Indah, Putra adalah tipikal suami yang sangat baik, tak segan menbantu mencuci, membersihkan rumah, menyiapkan makanan sendiri,  bahkan, semua yang ingin dilakukan istri, dikerjakan sendiri oleh Putra. Indah menjadi heran dan bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa bisa seperti ini.



Perlahan dia telusuri pokok permasalahan dari sahabatnya itu. Pelan-pelan dia bertanya dari hati kehati pada Weny,  kebetulan Indah adalah lulusan Psikologi dari sebuah universitas, jadi dia bisa mengetahui watak clientnya, sehingga dia bisa dengan mudah memasuki area fikiran sang client, termasuk Weny sahabatnya.



“ Oh ia… sebelumnya aku minta ma’af ya kalau seandainya pertanyaanku nanti agak sedikit mendetail dan  sedikit memasuki ruang privasi kamu” perlahan Indah menjelaskan pada Weny.


“ It’s ok.. nggak apa-apa kok In..” jawab Weny dengan tatapan sayu.


Indah terdiam agak lama.  Sesaa’t kemudian Weny  melangkah kedapur untuk menyediakan secangkir teh hangat untuk sekedar menghangtkan tubuh  mereka, karena siang itu hujan turun sangat deras mengguyur kota Medan yang sudah 3 bulan ini kering kerontang karena terpaan panas matahari yang tiada lelah menaungi kota yang terkenal khas dengan tarian Tor-Tor itu.



“ Wen.. setau aku suami  kamu itu orangnya nggak neko-neko, nggak mungkin dia ambil keputusan poligami secara tiba-tiba tanpa ada sebabnya” kembali Indah membuka percakapan



Weny hanya terdiam, sesekali pandangannya menatap kosong kedepan, seakan-akan dia juga memikirkan hal yang sama dengan Indah.



“ Dan aku juga tau tentang kamu sedari kita sekolah dahulu.” Sela Indah lagi



Putra kenal dengan Weny sejak Putra kelas 1 SMA dan Weny kelas 6 SD. Umur mereka memang terpaut sangat jauh. Sampai saat Putra berumur 27 tahun, Putra  belum juga menemukan pasangan  yang pas untuk dirinya, hingga akhirnya Putra mencoba mendekati Weny. singkat cerita  merekapun akhirnya menikah.



“ Setau aku…jika seorang suami memutuskan untuk menikah lagi, pasti ada yang kurang pada istrinya. Baik itu menyangkut kepatuhan seorang istri, kebersihan diri, keikhlasan melayani suami, malah terkadang karena masalah yang sifatnya  kadang di anggap biasa bagi sebagian perempuan, contohnya saja masalah ranjang atau kebutuhan biologis” Indah mencoba memancing Weny



“aa..apa In…maksud kamu apa….?” Weny tergagap dengan kata-kata indah tersebut

“ Ia…masalah kebutuhan biologis, kamu pasti lebih tau dengan apa yang aku maksud”

“ Masa itu harus dipermasalahkan sih In..”

Indah tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya itu, meskipun dia belum menikah, akan tetapi dia mengetahui sedikit banyaknya beberapa point penting dalam kehidupan berumah tangga.



“ ia…. memang nggak masuk akal kalau bagi kita perempuan, tapi kamu tau bukan, laki-laki itu menikah bukan hanya untuk mendapatkan keturunan semata, akan tetapi dia juga membutuhkan tempat untuk menyalurkan kebutuhan biologinya, karena takut  jatuh pada Zina, makanya dia memutuskan untuk menikah, agar Allah tak murka dan juga untuk menyelamatkan kesuciannya dirinya” jelas indah lagi.


Rasulullah Saw bersabda, "Wahai para pemuda, siapa diantara kalian telah memiliki ba'ah (kemampuan) maka menikahlah, kerena menikah itu menjaga pandangan dan kemaluan. Bagi yang belum mampu maka puasalah, karena puasa itu sebagai pelindung. (HR Muttafaqun'alaih


Kembali Weny hanya membisu mendengar penjelasan Indah. Memang selama ini dia seolah enggan, terkadang bahkan dengan halus suaminya didorong menjauh ketika hendak “beribadah”. Hasrat itu jarang sekali terpenuhi, kadang sampai 3-4 minggu.



Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau seseorang lelaki mengajak istrinya ketempat tidurnya, tetapi istri itu tidak mendatangi ajakannya tadi, lalu suami itu menjadi marah pada malam harinya itu, maka para malaikat melaknati - mengutuk - istri itu sampai waktu pagi.” (Muttafaq ‘alaih)



Dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim yang lain lagi, disebutkan demikian: “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam. bersabda: “Apabila seseorang istri meninggalkan tempat tidur suaminya pada malam harinya, maka ia dilaknat oleh para malaikat sampai waktu pagi.”



Selang 2 tahun pernikahan, mereka dikaruniai anak. Dan mereka mulai mengontrak rumah sendiri. Tak ada yang berubah, Weny masih jarang menyediakan diri, sementara suami berupaya melakukan apapun yang dia ingin istrinya lakukan agar kebituhannya terpenuhi.


** ** **

Putra melangkah gontai  menelusuri koridor  kantornya, jam sudah  menunjukkan pukul 16.00 WIB, sa’atnya jam kantor usai, akan tetapi dia tak lansung pulang, dia mampir dulu di café vavoritnya untuk menenangkan fikiran yang sedang berkecamuk. Mejanya bergetar, ternyata ada pesan masuk di Hp nya, disana terpampang sebuah nama yang sekarang ini ikut mondok dihatinya, Neni.



Neni adalah teman SMA nya dulu yang sudah 17 tahun hilang kontak. Dulu Putra sempat menyimpah rasa terhadap  Neni, demikian pula sebaliknya, namun Neni terburu keluar dari sekolah karena menikah dini. Usia mereka terpaut 1 tahun, Neni setahun lebih tua dari Putra.



Dan sekarang Allah kembali mempertemukan mereka. Ternyata Neni telah 7 tahun menjanda, dengan 1 orang anak. Tak dapat dielakkan lagi, benih-benih cinta yang dulu sempat gugur, sekarang seakan kembali menjalar dan subur. Pertemuan mereka semakin intens. Putra seperti menemukan kembali belahan jiwanya yang sempat hilang, hal yang sama juga dirasakan oleh Neni. Mereka tak bisa menepis rasa itu hingga hubungan mereka kembali berlanjut, dan Putra  berjanji pada Neni akan menikahinya, meski Neni tau kalau Putra masih berstatus sebagai seorang suami, namun Neni bersedia jika dia dijadikan yang kedua.



Putra semakin bingung,karena sa’at ini Weny istrinya tengah mengandung anak mereka yang ke-3. Pernah suatu kali Putra mencoba menjauhi Neni, dia mencoba tak lagi berhubungan dengannya, menghapus semua nomer Hp. Dia mencoba menghapus semua tentang Neni demi menjaga perasaan istrinya, demi menghindari pertengkaran yang kian hari kian sering terjadi, karena ternyata hubungan gelapnya dengan Neny tercium oleh istrinya. Weny mengetahui melalui sms yang tak sengaja ia baca dari Hp putra.



Weny merasakan rumah tangganya seperti di neraka, setiap hari yang terjadi pertengkaran demi pertengkaran, dia tak rela jikalau dia harus dimadu, dia tak bisa menerima kehadiran orang baru dalam cinta mereka, dia tak mau jika suaminya menikah lagi. Dia lebih memilih bercerai.



Putra sudah berbicara padanya dari hati ke hati, dan Putra pun menjelaskan bahwa Neni lebih tua 6 tahun dari Weny, akan tetapi, penjelasan itu tak dapat mengubah keinginan Weny untuk bercerai.


Weny menyadari kesalahannya selama ini, dia menyadari dirinya yang tak pernah sepenuh hati melayani suminya, meskipun 1 bulan setelah kelahiran anak mereka yang ketiga, dia telah berusaha sebaik mungkin memperbaiki dirinya,  tetap saja tak bisa merubah keinginan suaminya untuk menikahi Neni.

Dan Weny pun tetap pada pendiriannya, Bercerai. Akhirnya Putra menyetujui keinginanya itu, dengan syarat  anak-anak mereka besarkan bersama.








 















Senin, 15 Agustus 2011

Aku dan Kekasih Suamiku. Part 2 (finish)


Aku tak tahan lagi…..!

Apa lagi yang harus aku lakukan. Karena setiap kali aku bertanya pada suamiku, dia selalu mengelak. Malah aku yang dibilang mengada-ada. 

Ingin rasanya aku melabrak perempuan itu, tapi aku takut.. karena suamiku pernah bilang kalau aku nekat mendatangi perempuan itu, dia akan menceraikan aku. Aku gak mau itu sampai terjadi, aku nggak mau pernikahanku hancur.
Dan malam itu.. aku langsung bertanya pada suamiku, tapi yang terjadi malah pertengkaran hebat, dia mati-matian membela perempuan itu, dan ujung-ujungnya aku dilarang memakai Fb atau pun twitter..

Kenapa Rani datang lagi dalam kehidupan kami.., kenapa dia tega menghancurkan istana mungilku. Dia datang sa’at aku baru mulai merasakan indahnya menjadi seorang istri, sa’at aku baru mereguk indahnya hidup berumah tangga.


Tuhan…ada apa ini…? Kenapa…?

Aku bingung…karena suamiku pun memberi lampu hijau padanya, mereka kembali menjalin kasih, mereka kembali sering bertemu.

Aku diabaikan…aku tak dipedulikan lagi, malahan.. dia seenaknya menelpon wanita itu sa’at dia disampingku, dia tak lagi menghargai aku sebagai istrinya yang sah.

Dia mulai kasar padaku, terlebih jika aku menyebut-nyebut nama wanita itu, dia akan marah besar padaku. Dia sangat melindungi perempuan itu…!

Aku Benci Perempuan Itu, aku Muak sama mereka..!!!

Kenapa dia sebegitunya membela perempuan itu. Aku istrinya yang sah.. meski semenjak menikah dia tak penah memberiku nafkah. Tak apa bagiku, yang penting dia ada bersamaku.

Kian hari hubungan kami makin hambar, suamiku semakin jarang pulang kerumah, kalaupun dia pulang, paling hanya untuk mengambil pakain bersihnya, lalu dia pergi lagi, dan baru akan pulang beberapa hari setelah itu.
Kami tinggal satu atap tapi seperti tak saling kenal, jarang sekali ada percakapan di antara kami, meski aku berusaha tuk menghangatkan suasana, tapi hasilnya sama saja, dingin. Berdekatan tetapi berjauhan hati.

Teman dari suamiku pernah berkata kalau suamiku akan menceraikan aku, katanya aku bukan istri yang baik, dia bilang aku sering bercerita tentang mantanku itu, dia bilang kalau aku masih mencintai mantanku itu. Semua fitnah. Aku tak pernah bercerita tentang Reno pada suamiku kecuali sebelum kami akan menikah dalu. Dia melakukan itu hanya ingin menutupi hubungan gelapnya dengan perempuan itu.
Pernah suatu kali aku mencoba menghubungi perempuan itu, aku menjelaskan padanya kalau aku ini istri Zaki, aku mohon padanya untuk menjauhi suamiku. Tapi apa yang terjadi…? Dia malah mengatakan padaku bahwa suamiku bercerita kepadanya kalau pernikahan kami batal…!!.

Dan aku mecoba kembali untuk meyakinkan perempuan itu kalau sumiku itu membohonginya yaitu dengan memperlihatkan foto pernikahan kami. Akan tetapi dia tetap tidak percaya, dan bilang kalau aku ini perempuan yang lagi stress karena gagal menikah dan foto itu hanya hasil editan photoshop. Astagfirullah.. aku kewalahan meyakinkannya. Apa lagi yang harus aku lakukan sekarang..? dia sama sekali tak mau mempercayaiku, malah dia semkin menjadi-jadi.
Separoh hati aku kasian pada perempuan itu, aku kasian karena dia telah dibohongi mentah-mentah oleh Zaki. Aku kasihan akan masa depannya. Sekarang kuliahanya berantakan karena sibuk ngurusin Zaki. Puluhan SKS (Sistem Kredit Semester) harus dia ulang lagi. Tidakkah dia kasian pada orang tua yang susah payah membiayai studynya, tidakkah dia memikirkan masa depannya..? Ya Allah.. bukakanlah pintu hatinya.. dan juga pintu hati suamiku. Bagaimapun kesalahan tak sepenuhnya ada pada perempuan itu. Dia juga korban.


Aku selalu bermunajat setiap malamku… malam-malam ku hiasai dengan tahajud, meluapkan semua kesedihan dan sakit hati karena perbuatan suamiku, terus terang aku mulai putus asa karena Allah tak jua menjawab doa-doa ku. Kenapa ya Allah aku harus menjalani takdir yang seberat ini..? kenapa harus aku.. kenapa mesti aku ya Allah.. aku tak kuat lagi dengan cobaan ini, ber tubi-tubi cobaan Engkau timpakan padaku, apa salahku.., apa dosaku ya Allah…, apa aku pernah melakukan hal ini pada orang lain…? Engkau sungguh tak adil padaku, Engkau tak sayang padaku, kenapa mesti aku.. kenapa bukan mereka yang bejat…?? Tangisku pecah disela doa-doaku. Dengan sadar aku menghujat Allah…aku benar-benar tak kuat lagi.


Bulan Juni aku dimutasi ke kota lain oleh kantorku, aku dipindahkan kerja keluar daerah, dan hubungan ku dengan suamiku tak jua membaik.


Dan di kota ini aku terpaksa nge kost di sebuah rumah yang tak terpisah, aku melakukan itu agar aku tak terlalu merasa kesepian. Aku tinggal dirumah bu Hannah, beliau sangat baik, pun seluruh anggota keluarga nya, rasa sepiku sedikit terobati.


Seperti biasa aku pergi pagi dan pulang sore harinya, dan selalu saja bu Hannah telah menyiapkan makan malamku, aku dia anggap seperti anak kandungnya, baik nya ibu ini bisik hatiku. Bahagianya beliau mempunyai keluarga yang bahagia, andainya saja aku juga seperti beliau…pasti aku akan sangat bahagia, ahhh… itu hanya mimpi.


Suatu pagi sewaktu aku akan berangkat ke kantor, bu Hannah memanggilku, beliau mengenalkan ku dengan anak perempuan bu Hannah satu-satunya, namanya Hesti, dia lebih muda dariku, dan juga telah menikah dan mempunyai seorang putri.

“ Zahra…sini sebentar.. perkenalkan ini anak ibu, yang sering ibu cerita kekamu itu lho....”

“ Zahra..” kataku sambil menyalaminya..

“ Hesti kak..” dia tersenyum padaku

“ Kakak mau berangkat kerja ya…emang masuk jam berapa…kok jam segini baru berangkat..?”

“ Ia….kakak masuk jam 8, kan dekat dek..10 menit juga nyampe..” jawabku seraya tersenyum

“ Ya ia lah… kakak istrinya mas Zaki kan…mobil itukan yang sering di pakai mas Zaki klo mau jemput Rani ke kampus, Rani itu teman aku sekampus lho kak..”

Dezzz!!! Seluruh tulang-tulangku lemas.. aku serasa mau roboh…Aku tak tau harus jawab apa, ya Allah… Apa ini kebetulan.., ada apa ini…. Engkau menitipkanku di sebuah keluarga yang ternyata anaknya adalah sahabat dari perempuan itu. Apa lagi rencana-Mu ya Allah…
Aku tergagap, tak tau harus menjawab apa lagi, aku terdiam cukup lama, dan sepertinya Hesti mengerti apa yang ada di dalam fikiranku.

“ kak.. aku salut sama kakak.. kakak begitu tegar..”

“ Maksud dek Hesti apa….?”

“ Udahlah kak.. aku dah tau kok apa yang terjadi sebenarnya, semua teman-teman di kampus tau siapa Rani kok, dan kami juga sudah tau tentang hubungan mereka”

Aku terdiam… ingin rasanya aku menjerit…ingin rasanya aku teriak.. tapi lidahku kelu.

“ kakak itu baik… dia nggak pantes buat dijadiin suami, laki-laki itu tidak pantas di cintai kak”
Aku kembali diam…pali-paling aku hanya membalas dengan senyum getir, karena aku telah kehabisan kata-kata.

Semakin hari aku semakin akrab dengan Hesti dan keluarganya, dia memperlakukan aku seperti kakaknya, setiap dia kembali dari kampusnya, yang pertama dia tanya adalah aku, dia akan langsung menghubungiku, menanyakan aku lagi dimna, dan sedang apa. Aku sangat senang karena aku di anugerahi sebuah keluarga baru disaat aku jauh dari keluarga yang selalu mendukungku, akan tetapi aku masih belum mengerti kenapa Allah menitipkan aku disini.


Dan sekarang bulan ke-6 pernikahan kami…sedih rasanya menjalani status yang tak jelas seperti ini. Dibilang sebagai seorang istri.. tapi aku tak pernah tau suamiku dimana, dia lagi apa atau sedang dengan siapa, nomer handpone nya aja aku tak pernah tau.


Selasa 19 Juni 2011 aku mendengar kabar yang sangat mengagetkan sekaligus menyakitkan hatiku. Seorang sahabat Rani memberitahuku bahwa mereka telah menikah secara diam-diam. Mereka menikah meskipun orang tua mereka tak sedikitpun memberikan restu, mereka menikah dengan data-data yang dipalsukan

Serasa di sambar petir. Dunia serasa berhenti berputar, aku ambruk….semua terasa gelap…

Aku merasakan sentuhan lembut dipipiku..sebuah belaian hangat yang aku tak tau dari siapa, setelah aku membuka mata, aku melihat bu Hannah dan kelurganya berkumpul dikamarku, mereka terlihat sangat cemas.. aku melihat bu Hannah dan Hesti menangis.


Aku hanya diam melihat mereka, fikiranku masih direnteti dengan kata-kata di telepon tadi, aku berharap ini hanya mimpi, akan tetapi sekali lagi, kenyataan tak seindah inginku, disini aku terpuruk menahan sakit.. akan tetapi diseberang sana suamiku dan perempuan itu tengah bahagia menikmati kemenangan mereka. Yah.. Mereka menang…!


Dan sekarang yang ada difikiranku hanyalah menunggu hasil keputusan sidang, karena beberapa hari setelah aku mendengar kabar itu aku langsung mengurus surat-surat pengaduan ke kantor polisi atas alasan KDRT.


Sekarang aku menunggu dan akan menjalani episode takdir hidupku yang aku tak tau akan berakhir seperti apa. Dan lagi-lagi sampai detik ini aku masih belum mengerti maksud Allah akan peristiwa ini.